PEKANBARU - Anggota DPRD Kota Pekanbaru Tekad Indra Pradana Abidin mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terutama bagi kalangan masyarakat kelas menengah.
Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi memicu fenomena 'turun kelas' yakni peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.
"Kenaikan BBM nonsubsidi ini jelas dapat memicu peralihan konsumsi ke BBM subsidi. Jelas ini nanti dampaknya terhadap ketersediaan BBM subdisidi, apakah pasokan aman atau justru malah bikin warga Pekanbaru ngantre lama-lama dalam tanda kutip war cari BBM subsidi ,” ujar Tekad, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga, harga BBM nonsubsidi di Riau mengalami kenaikan. Pertamax Turbo kini menjadi Rp20.750 per liter dari sebelumnya Rp20.250. Dexlite naik menjadi Rp27.150 dari Rp24.650 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp29.100 dari sebelumnya Rp24.950 per liter.
Tekad menilai, kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut kurang tepat di tengah kondisi krisis ketersediaan bensin beberapa waktu terakhir terjadi disetiap SPBU di Kota Pekanbaru.
"Kurang tepatlah rasanya menaikkan harga BBM. Warga Pekanbaru baru-baru ini lagi susah cari bensin sampai ngantre berjam-jam dan mutar-mutar cari SPBU yang masih tersedia BBM," sebutnya.
Ia pun mewanti-wanti lonjakan harga BBM nonsubdisidi tersebut tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga dapat menekan daya beli masyarakat.
“Jika tidak diantisipasi, pergeseran konsumsi ke BBM subsidi dapat memperbesar beban anggaran negara,” tegasnya.
Tekad meminta pemerintah memperketat pengawasan distribusi BBM subsidi agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh kelompok masyarakat mampu.
“Pengawasan harus diperketat, distribusi dijaga, serta stabilisasi harga pangan dan kontrol tarif logistik harus menjadi prioritas,” pungkasnya.