PEKANBARU - Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Roni Pasla menyarankan agar keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Pekanbaru lebih tertata dengan baik, termasuk yang berjualan tidak pada tempatnya.
Pasalnya, jika dibiarkan dan semakin ramai aktivitas PKL akan menganggu kenyamanan masyarakat dan menganggu fasilitas umum yang ada.
Untuk itu, Roni Pasla menyarankan agar keberadaan PKL lebih tertata dan Pemko Pekanbaru bisa mengambil contoh penataan PKL di Jalan Malioboro, Daetah Istimewa Yogyakarta.
Dulu, kata Roni, sepanjang kawasan Malioboro, sisi kiri dan kanan dipenuhi pedagang kaki lima.
"Sekarang pedagang-pedagang tersebut sudah ditata dan disediakan tempat khusus, sehingga pengunjung menjadi lebih nyaman," ungkap Roni, Rabu (30/9/2026).
Menurut Politisi PAN ini, Kota Pekanbaru memiliki fasilitas umum seperti taman Labuai yang juga dijadikan peluang untuk PKL berjualan.
"Namun, karena jumlah pedagang kaki lima cukup banyak, tentu tidak mungkin seluruhnya dipusatkan di satu tempat," tuturnya.
"Bisa saja nantinya di masing-masing kecamatan dibuat pusat atau sentra pedagang kaki lima tersendiri," sambungnya.
Ia menyoroti, hampir di 15 kecamatan di Kota Pekanbaru, di berbagai ruas jalan terdapat PKL.
Ini menjadi tugas Pemko untuk mencarikan solusi. Kata dia, tidak bisa hanya dibuat satu tempat saja.
"Kalau setiap kecamatan memiliki sentra masing-masing, maka pedagang tidak lagi memenuhi badan jalan," jelasnya.
Ia menilai, konsep seperti itu sangat memungkinkan diterapkan di Pekanbaru. Sebab, di Pekanbaru masih cukup terbuka dan banyak lahan yang bisa dimanfaatkan.
"Kalaupun Pemko tidak memiliki lahan sendiri, bisa dilakukan kerja sama dengan pihak swasta," kata Roni.
Yang terpenting, kata Roni, aktivitas perdagangan tidak lagi menggunakan badan jalan yang bisa membahayakan pedagang dan juga pengguna jakan.
"Sehingga fungsi jalan tetap terjaga dan masyarakat juga lebih nyaman," tandasnya.