PEKANBARU – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperluas sumber pasokan cabai dan bawang merah ke Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Langkah ini menjadi strategi mitigasi risiko pasokan sekaligus pengendalian inflasi menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Ekspansi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) jual-beli skema business to business (B2B) pada 3 Maret 2026 di Yogyakarta.
Kerja sama melibatkan empat Kantor Perwakilan BI dan tiga pemerintah provinsi, serta tujuh kelompok tani dari sentra produksi cabai dan bawang merah di DIY dan Jawa Tengah.
Adapun pembeli dari Riau terdiri atas BUMD pangan PT Riau Pangan Bertuah, PT Sarana Pangan Madani Pekanbaru, serta Koperasi Propas Syariah Pekanbaru.
Sekdaprov Riau, Dr Syahrial Abdi menegaskan, perluasan KAD ke Pulau Jawa merupakan langkah antisipatif setelah gangguan pasokan akibat bencana hidrometeorologi di Sumatera pada akhir 2025.
“Kami mengapresiasi peran aktif Bank Indonesia sebagai think tank TPID yang konsisten memberi rekomendasi kebijakan. Perluasan kerja sama ke Jawa ini adalah bentuk mitigasi risiko agar pasokan tetap terjaga ketika daerah mitra sebelumnya terdampak bencana,” ujarnya.
Selama ini, pasokan komoditas strategis Riau sangat bergantung pada wilayah sekitar seperti Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Ketika terjadi gangguan distribusi, tekanan harga langsung terasa di pasar Riau.
Data menunjukkan, meskipun bencana tidak terjadi langsung di Riau, inflasi daerah sempat meningkat hingga 1,21 persen (month to month) akibat terganggunya distribusi pangan dari wilayah pemasok.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Riau, Panji Achmad, menyebut Kerjasama Antar Daerah merupakan bagian dari program strategis Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), transformasi dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
“KAD menjadi instrumen penting untuk memastikan kesinambungan pasokan, terutama bagi Riau yang produksi pangan strategisnya relatif terbatas. Dengan diversifikasi sumber pasokan, stabilitas harga bisa lebih terjaga,” kata Panji.
Ia menambahkan, penguatan jaringan distribusi lintas provinsi menjadi kunci menjaga inflasi tetap berada dalam rentang sasaran, khususnya pada periode permintaan tinggi seperti Ramadan dan Idul Fitri.
Kerja sama ini turut melibatkan kelompok tani binaan BI di DIY dan Jawa Tengah yang berstatus National Champion Cabai dan Bawang Merah, mitra strategis Kementerian Pertanian RI.
Dengan kapasitas produksi dan manajemen pascapanen yang lebih mapan, kontinuitas suplai diharapkan lebih terjamin.
Ekspansi KAD ke sentra hortikultura di Pulau Jawa juga dinilai sebagai langkah strategis jangka panjang, mengingat perubahan pola cuaca ekstrem berpotensi mengganggu produksi di satu wilayah dalam waktu bersamaan.
Ke depan, BI Riau dan TPID menargetkan model kerja sama ini tidak hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga menciptakan ekosistem distribusi pangan yang lebih efisien dan terintegrasi antarwilayah.