PEKANBARU - PT Energi Mega Persada (EMP) menargetkan produksi gas sekitar 100 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada 2030.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan produksi hulu migas sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap kebutuhan energi.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, Sebastian Julius dalam Forum Interaktif EMP & SKK Migas Bersama Media bertajuk Neo Energy Meet Up di salah satu kafe di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, Kamis (1/10/2026).
Menurut Sebastian, EMP memiliki 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S), dengan enam wilayah kerja berada di Provinsi Riau yakni Bentu, Korinci Baru, Malacca Strait, Kampar, Siak dan South CPP.
“Target produksi EMP pada 2030 adalah sekitar 100 MMSCFD,” ujar Sebastian.
Target tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kegiatan hulu migas masih menjadi salah satu agenda penting EMP.
Produksi tidak hanya bergantung pada lapangan yang sudah beroperasi, tetapi juga membutuhkan eksplorasi dan peningkatan produksi dari wilayah kerja yang dikelola.
Sebastian mengatakan kegiatan hulu migas saat ini terus diarahkan pada eksplorasi serta peningkatan produksi. Posisi Riau menjadi penting karena sebagian wilayah kerja EMP berada di provinsi ini.

Bukan Sekadar Angka Produksi
Di balik target produksi tersebut, kegiatan hulu migas juga memiliki dampak ekonomi yang perlu mendapat perhatian.
Karena itu, pemberitaan mengenai sektor migas dinilai tidak cukup jika hanya berhenti pada angka produksi, investasi atau eksplorasi.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut Yanin Kholison mendorong media menggali dampak kegiatan hulu migas dari perspektif masyarakat.
“Coba digali sisi yang humanis, selain sisi teknis yang selama ini diberikan,” kata Yanin.
Ia menjelaskan, kegiatan hulu migas dapat memberikan multiplier effect bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Salah satu contohnya berkaitan dengan proses pembebasan atau pembelian lahan yang dapat memberikan nilai ekonomi kepada pemilik lahan.
“Kita selalu welcome jika ada ide seperti ini,” ujarnya.
Perspektif tersebut membuka ruang pemberitaan yang lebih luas mengenai sejauh mana aktivitas hulu migas memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, mulai dari penggunaan tenaga kerja lokal, aktivitas usaha pendukung hingga perubahan nilai ekonomi aset masyarakat.
EMP dan Neo Energy Berbeda Entitas
Forum tersebut juga mengklarifikasi penggunaan nama Neo Energy yang menjadi bagian dari tema kegiatan.
Sebastian menegaskan, Neo Energy dan EMP merupakan entitas dengan fokus kegiatan yang berbeda.
EMP berada pada sektor hulu minyak dan gas bumi, sedangkan Neo Energy lebih menonjolkan bisnis yang berkaitan dengan nikel, kawasan industri dan material baterai kendaraan listrik.
Penjelasan tersebut penting agar publik tidak mencampuradukkan aktivitas kedua entitas ketika melihat perkembangan bisnis energi dan sumber daya alam yang dikaitkan dengan nama Neo Energy.
Media Diminta Perluas Perspektif Pemberitaan
Forum yang dihadiri sekitar 20 wartawan dari berbagai media tersebut juga menjadi ruang dialog antara perusahaan, regulator dan jurnalis.
Hadir Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar bersama jajaran SKK Migas Perwakilan Sumbagut dan EMP Bentu Ltd.
Area Manager EMP Bentu Ltd Dadi Mulyadi mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang komunikasi yang lebih terbuka dan informal antara perusahaan, SKK Migas dan media.
“Media menjadi penyambung informasi kepada masyarakat luas dengan informasi yang lebih berimbang,” kata Dadi.
Perwakilan wartawan, Fithriady Syam menilai, forum semacam itu penting karena karakter media saat ini semakin tersegmentasi.
Menurut dia, terdapat media yang secara khusus menaruh perhatian pada sektor migas, energi dan ekonomi.
Dengan kondisi tersebut, informasi mengenai hulu migas dapat dikembangkan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga melalui perspektif ekonomi dan sosial yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.