JAKARTA – Lonjakan konsumsi masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri dinilai harus diantisipasi secara serius oleh pemerintah. Stabilitas rantai pasok dan harga bahan baku menjadi kunci agar momentum tahunan ini tidak berubah menjadi tekanan ekonomi.
Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Hendry Munief, menegaskan tingginya permintaan kebutuhan pokok harus diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai di pasar.
"Tingginya konsumsi masyarakat menyebabkan naiknya permintaan atas bahan baku seperti tepung, daging, susu, minyak goreng dan lain-lain. Para pelaku UMKM sangat berkepentingan atas hal ini. Maka kita harapkan pemerintah terus mengontrol, mengawasi dan mencarikan solusi atas potensi persoalan ketersediaan bahan baku, bahkan harganya,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi pihak yang paling terdampak apabila terjadi gangguan distribusi atau lonjakan harga yang tidak terkendali.
Pasalnya, sektor ini sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku untuk menjaga daya saing produk mereka selama Ramadan.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada pengendalian harga, tetapi juga memanfaatkan momentum peningkatan konsumsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jangan sampai inflasi dan deflasi terjadi. Masyarakat menahan untuk berbelanja karena harga kebutuhan yang melambung tinggi. Kenaikan sewajarnya dapat dimaklumi oleh konsumen karena memang momentum memaksa hal itu terjadi,” jelasnya.
Hendry berharap pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan kepentingan pelaku usaha, sehingga Ramadan dan Idulfitri menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, bukan justru memicu gejolak harga yang merugikan masyarakat luas. (rilis)