www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Pengendalian Inflasi Pangan, TPID Riau Kick Off Gerakan Tanam 100 Ribu Cabai
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


LMC Minta Revisi UU Hak Cipta Lindungi Jurnalisme Tanpa Mematikan Media Lokal
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:18:01 WIB
ist.
ist.

JAKARTA - Local Media Community (LMC) menyampaikan sejumlah masukan terhadap rencana revisi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Jejaring media lokal tersebut meminta pemerintah dan DPR memastikan penguatan perlindungan terhadap karya jurnalistik tidak justru mengganggu distribusi berita dan keberlangsungan bisnis media lokal.

LMC menilai industri media digital Indonesia tengah menghadapi tekanan besar akibat perubahan perilaku audiens, perkembangan kecerdasan buatan generatif, transformasi mesin pencari, hingga perubahan pasar periklanan. Kondisi tersebut membuat media lokal dan penerbit skala kecil hingga menengah menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan model bisnisnya.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Hukum tengah menginisiasi proses revisi UU Hak Cipta dengan memasukkan jurnalisme sebagai salah satu bidang yang mendapat hak ekonomi. Langkah tersebut berkaitan dengan pengaturan tanggung jawab perusahaan platform digital dalam mendukung jurnalisme berkualitas.

Sebagai bagian dari konsolidasi suara penerbit daerah, LMC yang mewadahi ratusan media lokal serta media skala kecil dan menengah di Indonesia menyampaikan pandangan dan rekomendasi terhadap rancangan regulasi tersebut.

Sikap tersebut dirumuskan melalui rangkaian diskusi dan roadshow yang digelar di Pekanbaru, Makassar, dan Surabaya. Diskusi tersebut melibatkan pelaku industri media dari berbagai daerah di Sumatra, Jawa, Bali, hingga Indonesia Timur.

Salah satu inisiator LMC, Suwarjono, mengatakan masukan tersebut disusun berdasarkan realitas operasional media di daerah serta aspirasi para pelaku industri pers.

Menurut LMC, perubahan lanskap digital telah menyebabkan pola konsumsi berita mengalami pergeseran. Lalu lintas rujukan dari mesin pencari konvensional berfluktuasi, sementara generasi muda semakin banyak mengakses informasi melalui platform video pendek dan media sosial.

Soroti Definisi Karya Jurnalistik

Salah satu perhatian utama LMC adalah belum adanya definisi yang dinilai cukup ketat mengenai “karya jurnalistik” dalam pembahasan revisi UU Hak Cipta.

LMC menilai karakter media lokal perlu menjadi pertimbangan. Keterbatasan jumlah personel membuat sebagian besar publikasi media daerah terdiri atas informasi publik, siaran pers, dan berita peristiwa dasar.

Sementara karya berupa liputan mendalam, investigasi, riset independen, maupun laporan dengan nilai tambah memiliki porsi yang lebih kecil.

Karena itu, LMC mengusulkan agar perlindungan hak cipta dan skema royalti difokuskan pada karya jurnalistik yang benar-benar orisinal, memiliki proses peliputan dan verifikasi mendalam, serta mengandung nilai tambah.

Sebaliknya, informasi publik dan siaran pers resmi dinilai perlu dikecualikan agar tidak memicu sengketa antarpenerbit. LMC menilai definisi yang terlalu luas berpotensi membuat berbagai jenis konten diklaim sebagai objek kompensasi secara sepihak.

Khawatir Distribusi Berita Terganggu

Selain definisi karya jurnalistik, LMC juga menyoroti potensi dampak regulasi terhadap distribusi konten.

Media lokal selama ini dinilai sangat bergantung pada pengindeksan mesin pencari dan agregator berita untuk menjangkau pembaca. Apabila regulasi menerapkan kewajiban pembayaran yang terlalu kaku kepada platform, LMC khawatir terjadi pembatasan distribusi atau bahkan penghentian pengindeksan berita.

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan jumlah kunjungan ke situs media dan berdampak langsung terhadap pendapatan iklan programatik yang menjadi salah satu sumber pemasukan media daerah.

Dorong Skema B2B, Tolak Sentralisasi LMK

LMC juga menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan dan distribusi royalti karya jurnalistik melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).

Menurut LMC, industri media digital membutuhkan fleksibilitas dalam pengelolaan pendapatan. Karena itu, mereka mendorong penerapan skema kerja sama langsung business-to-business (B2B) antara perusahaan pers dan platform digital.

Skema tersebut dinilai memberikan ruang bagi penerbit untuk menentukan nilai komersial kontennya dan melakukan negosiasi secara langsung.

Selain B2B, LMC juga membuka kemungkinan penerapan skema hibrida yang memungkinkan media kecil menggunakan perwakilan atau asosiasi secara sukarela.

Pendekatan tersebut dinilai lebih fleksibel dibandingkan sistem pengelolaan royalti yang terpusat.

Tolak Penerapan Link Tax

Masukan lainnya adalah penolakan terhadap usulan penerapan link tax atau kewajiban pembayaran atas penggunaan tautan dan cuplikan singkat berita.

LMC menilai pengindeksan tautan merupakan bagian dari prinsip internet terbuka yang selama ini membantu mengarahkan lalu lintas pembaca ke situs penerbit.

Karena itu, mereka meminta prinsip fair use untuk fungsi pencarian dasar tetap dipertahankan dan klausul link tax tidak dimasukkan dalam revisi UU Hak Cipta.

LMC juga menyoroti pengalaman sejumlah negara dalam mengatur hubungan antara platform digital dan perusahaan media.

Dalam dokumen sikapnya, LMC mencatat pengalaman Kanada dan Australia sebagai bahan pembelajaran. Regulasi yang terlalu ketat dinilai berpotensi menimbulkan dampak berbeda terhadap distribusi berita, sementara model negosiasi langsung dinilai dapat menjadi salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan.

Ajukan Tujuh Rekomendasi

Sebagai bagian dari sikap resminya, LMC menyampaikan tujuh rekomendasi kepada pemerintah dan DPR dalam pembahasan revisi UU Hak Cipta.

Rekomendasi tersebut antara lain memastikan perlindungan karya jurnalistik tidak mengganggu distribusi berita, memperjelas definisi karya jurnalistik, mendorong skema B2B atau hibrida, menolak penerapan link tax, serta memberikan perhatian khusus terhadap keberlangsungan media lokal.

LMC juga meminta pemerintah membuka ruang dialog yang melibatkan media lokal, asosiasi pers daerah, dan platform digital sebelum regulasi disahkan.

Selain itu, mereka menekankan pentingnya menjaga hak masyarakat untuk memperoleh informasi agar perubahan regulasi tidak justru mengurangi akses publik terhadap berita dan informasi.

LMC menegaskan akan terus mengawal proses pembahasan revisi UU Hak Cipta. Menurut mereka, penguatan ekonomi jurnalisme harus tetap memperhatikan keberlangsungan media lokal yang memiliki peran penting dalam menyediakan informasi di berbagai daerah di Indonesia.(Rls)



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Kepala Sekretariat Kantor Staf Presiden, Prof. Dr. Achmad bersama TPID Riau kick off gerakan tanam 100 ribu cabai (foto/riki)Pengendalian Inflasi Pangan, TPID Riau Kick Off Gerakan Tanam 100 Ribu Cabai
Pemadaman karhutla di Kerumutan, Pelalawan.(foto: mcr)Api Sulit Ditaklukkan, Karhutla Kerumutan Pelalawan Tembus Sekitar 270 Hektare
Harlah ke-25, LLMB Riau, Kepri dan Sumut kumpulkan berbagai elemen di Pekanbaru.(foto: barkah/halloriau.com)Harlah ke-25 LLMB Jadi Konsolidasi Besar Bersatu Perjuangkan Hak Riau
Karhutla di Riau.(ilustrasi/int)Karhutla Riau Meluas, Bengkalis Catat Lahan Terbakar Terbesar hingga 8.407 Hektare
Warga Bagan Jawa titip aspirasi sumur bor ke DPRD Rohil.(foto: afrizal/halloriau.com)Warga Bagan Jawa Minta Sumur Bor, Ini Respons Anggota DPRD Rohil Rahmat Iman
  KKN Desa Sadar Jaya UIN Suska Riau menggelar program inovasi paving block berbahan limbah plastik (foto/ist)KKN Desa Sadar Jaya UIN Suska Riau Gelar Program Inovasi Paving Block Berbahan Limbah Plastik
BPBD Riau larang drone sipil terbang sekitar area aktivitas helikopter water boombing.(ilustrasi/int)BPBD Riau Larang Drone Terbang di Area Karhutla, Ini Bahaya bagi Helikopter
Mitsubishi XForce siap ekspor.(foto: int)Xforce Hybrid Tembus 1.000 Unit, Kini Siap Dibawa Mitsubishi ke Pasar Global
Harga cabai di Pekanbaru diprediksi naik.(ilustrasi/int)El Nino Bakal Bawa Harga Pangan Pekanbaru Bergerak Naik, Cabai Paling Diwaspadai
BRK Syariah percepat digitalisasi UMKM di Festival Pacu Jalur 2026 lewat QRIS.(foto: istimewa)BRK Syariah Bawa Inovasi Digital ke Festival Pacu Jalur 2026, UMKM dan Wisatawan Diuntungkan
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved