JAKARTA – Museum Bank Indonesia (BI) di kawasan Kota Tua, Jakarta, mulai diarahkan tidak sekadar menjadi ruang penyimpanan sejarah mata uang dan perjalanan bank sentral.
Museum tersebut dikembangkan sebagai ruang literasi, pertukaran gagasan, hingga pembahasan isu ekonomi kontemporer.
Gagasan itu disampaikan Kepala Museum BI, Rio Wardhanu saat menerima kunjungan jurnalis Pekanbaru yang menjadi mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Riau, Kamis (24/9/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Media Gathering BI Riau yang berlangsung di Jakarta pada 24-26 September 2026.
Rio menjelaskan, Museum BI memiliki fungsi yang terus dikembangkan mengikuti kebutuhan masyarakat.
Karena itu, museum tidak hanya menghadirkan koleksi sejarah, tetapi juga menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan.
"Konsepnya tidak lagi hanya sebagai tempat untuk barang-barang uang. Tapi museum itu menjadi melting pot, tempat di mana kita bisa menyatukan gagasan," kata Rio.
Menurut dia, pendekatan tersebut membuka ruang bagi museum untuk membicarakan berbagai isu baru sekaligus mendorong munculnya gagasan yang dapat mendukung peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah penyelenggaraan pameran temporer yang digelar secara berkala.
Berbeda dengan koleksi permanen yang menggambarkan perjalanan sejarah Bank Indonesia, pameran temporer memungkinkan museum mengangkat tema yang lebih aktual dan beragam.
"Setahun dua kali kita ada pameran yang sifatnya temporer," ujarnya.
Rio menyebut sejumlah tema yang pernah diangkat berkaitan dengan ekonomi inklusif, ekonomi hijau, keberlanjutan, hingga perspektif perempuan dalam melihat sejarah.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa museum dapat menjadi medium untuk menjembatani isu ekonomi dengan kehidupan sosial masyarakat.
Sejarah kebijakan moneter dan peran bank sentral tidak hanya ditempatkan sebagai informasi masa lalu, tetapi dapat dikaitkan dengan persoalan yang berkembang saat ini.
Bagi masyarakat, keberadaan Museum BI juga menjadi salah satu sarana untuk memahami perjalanan ekonomi Indonesia dengan cara yang lebih kontekstual.
Rio mengatakan, akses museum juga dibuat relatif terjangkau bagi masyarakat. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap pengetahuan.
"Kita kenakan Rp5 ribu supaya akses kepada pengetahuan bisa berjalan jauh lebih luas," katanya.
Dalam konteks tersebut, museum memiliki posisi yang lebih luas dibanding sekadar destinasi wisata sejarah.
Informasi mengenai sistem moneter, perkembangan ekonomi dan perjalanan Bank Indonesia dapat menjadi bahan literasi bagi masyarakat, termasuk kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas maupun pekerja media.
Rio juga menyampaikan apresiasi kepada KPw BI Riau yang membawa para jurnalis Pekanbaru untuk mengenal Museum BI secara langsung.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat memperluas sudut pandang pemberitaan mengenai Bank Indonesia.
Selama ini, pemberitaan bank sentral lebih sering berkaitan dengan kebijakan moneter, inflasi, nilai tukar, sistem pembayaran dan isu ekonomi lainnya.
Menurut Rio, perspektif budaya dan sejarah juga penting untuk melihat peran bank sentral secara lebih utuh.
"Teman-teman semua, rekan wartawan bisa menjadi mitra kami, Bank Indonesia, dan support juga untuk pemberitaan. Tidak hanya bicara mengenai ekonominya, tapi juga melihat bank sentral dari sisi budayanya, sisi bagaimana kita merawat kesejahteraan," tuturnya.
Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa komunikasi antara bank sentral dan media tidak harus berhenti pada penyampaian data ekonomi.
Pemahaman terhadap sejarah dan perkembangan kelembagaan Bank Indonesia dapat menjadi konteks tambahan bagi jurnalis ketika menjelaskan kebijakan ekonomi kepada publik.
Dengan konsep museum yang terus diperluas, ruang pamer tidak lagi hanya berfungsi untuk mengenang masa lalu. Museum BI juga diposisikan sebagai ruang publik yang mempertemukan sejarah, ekonomi, budaya dan gagasan baru.