PEKANBARU – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai peluang peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika Serikat terbuka lebar apabila kebijakan tarif nol persen kembali diberlakukan. Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja ekspor ke pasar tersebut menunjukkan tren pertumbuhan.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa volume ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika Serikat meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Jika sebelumnya berada di bawah satu juta ton, kini volumenya telah melampaui dua juta ton.
Ia memperkirakan potensi peningkatan lebih lanjut dalam dua hingga tiga tahun ke depan, terutama apabila dukungan kebijakan tarif kembali diterapkan.
Menurutnya, Amerika Serikat merupakan salah satu pasar strategis bagi minyak sawit Indonesia. Saat ini, pangsa pasar minyak sawit Indonesia disebut telah mencapai sekitar 89 persen dari total impor minyak sawit negara tersebut.
GAPKI juga melihat peluang tambahan dari perubahan preferensi konsumen di Amerika Serikat. Sebagian konsumen dinilai mulai beralih dari minyak kedelai ke minyak sawit karena pertimbangan harga dan ketersediaan pasokan.
Meski demikian, pelaku industri masih menunggu kepastian kebijakan tarif dalam perjanjian dagang Indonesia–Amerika Serikat. Pemerintah Indonesia berharap fasilitas tarif nol persen untuk sejumlah komoditas ekspor tetap berlaku setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya diberlakukan pada era Donald Trump.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyampaikan bahwa proses konsultasi masih berlangsung sebagai tindak lanjut atas putusan tersebut.