JAKARTA - Emiten sektor kelapa sawit (crude palm oil/CPO) memandang prospek bisnis perkebunan sepanjang tahun ini masih menjanjikan, ditopang oleh permintaan global yang tetap kuat. Meski demikian, pelaku industri tetap mewaspadai sejumlah tantangan, terutama yang berasal dari dinamika harga minyak mentah dunia.
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), Djap Tet Fa, mengungkapkan bahwa industri CPO saat ini dihadapkan pada tantangan yang bersifat struktural maupun dinamis. Beberapa di antaranya mencakup fluktuasi harga minyak, pergerakan nilai tukar mata uang asing, hingga faktor geopolitik global.
Menurutnya, keseimbangan antara penawaran dan permintaan global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga CPO, terutama di tengah kondisi produksi minyak sawit yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, industri sawit nasional juga menghadapi persoalan produktivitas. Hal ini antara lain dipicu oleh usia tanaman yang sudah tua serta dampak cuaca ekstrem. Di sisi lain, harga CPO justru terdorong naik seiring meningkatnya permintaan global, termasuk dari implementasi kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia yang turut menopang harga.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, AALI mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,4 triliun pada 2026. Anggaran ini meningkat 79 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp782 miliar. Sebagian besar dana akan digunakan untuk program peremajaan tanaman (replanting).
Sepanjang tahun ini, AALI menargetkan replanting seluas 8.000 hektare, meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 5.080 hektare. Program ini menjadi fokus utama perseroan, dengan alokasi capex sebesar 63,8 persen untuk replanting, 19,8 persen untuk pengembangan pabrik dan pelabuhan, serta 16,4 persen untuk sektor non-perkebunan.
Sementara itu, Corporate Secretary PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT), Rizka Dewi, menyampaikan bahwa perseroan melihat peluang pertumbuhan kinerja yang tetap positif, seiring tren penguatan harga CPO.
Ia menegaskan, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan fokus pada efisiensi serta peningkatan margin usaha. Strategi yang dijalankan BWPT saat ini mencakup optimalisasi aset yang ada melalui program replanting, peningkatan produktivitas, serta efisiensi operasional pabrik.
Menurut Rizka, peluang ekspansi tetap terbuka, namun dilakukan secara selektif dan terukur. Secara fundamental, pasar CPO masih ditopang oleh permintaan global yang kuat, khususnya dari sektor pangan dan energi, meskipun tetap dipengaruhi oleh dinamika supply-demand, kebijakan, serta faktor eksternal lainnya.
Ia juga menilai tren harga CPO ke depan masih cenderung positif, meski volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi.
BWPT, lanjutnya, terus mengantisipasi berbagai tantangan seperti fluktuasi harga, pergerakan nilai tukar, serta peningkatan biaya produksi. Melalui penguatan efisiensi, tata kelola perusahaan, dan implementasi prinsip keberlanjutan, perseroan optimistis mampu menjaga kinerja yang stabil dan berkelanjutan.