PADANG – PT Bank Nagari mencatatkan laba sebesar Rp493,74 miliar (unaudited) sepanjang tahun 2025. Perolehan tersebut mengalami penurunan sebesar 8,24 persen secara tahunan (year on year) dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama Bank Nagari, Gusti Candra, mengatakan meskipun laba terkoreksi, kinerja perseroan tetap memberikan kontribusi nyata bagi daerah dan masyarakat. Hal ini tercermin dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih berjalan relatif stabil.
“Dalam kondisi seperti ini, Bank Nagari masih mampu berkontribusi bagi daerah dan masyarakat. Penyaluran KUR dan pembiayaan UMKM menunjukkan kinerja yang tidak terlalu buruk,” ujar Gusti saat memaparkan kinerja Bank Nagari Tahun 2025 di Padang, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, penurunan laba tidak terlepas dari perlambatan penyaluran kredit dan pembiayaan. Hingga akhir 2025, total kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp25,27 triliun atau turun 1,10 persen dibandingkan Desember 2024. Kondisi ini dipengaruhi oleh belum optimalnya permintaan kredit akibat melemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang masih terbatas.
Menurut Gusti, perbankan memilih bersikap lebih berhati-hati dan rasional dalam menyalurkan kredit, tanpa memaksakan pertumbuhan di tengah kondisi ekonomi pelaku UMKM dan dunia usaha yang belum sepenuhnya pulih, terutama pascabencana alam yang terjadi pada akhir 2025.
“Kami tidak ingin memaksakan penyaluran kredit di saat kondisi ekonomi pelaku UMKM dan pelaku usaha secara umum sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) Bank Nagari tercatat mencapai Rp26,84 triliun atau tumbuh 0,58 persen dibandingkan posisi Desember 2024. Gusti menilai pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh kecenderungan masyarakat untuk mengandalkan tabungan di tengah situasi ekonomi, sekaligus upaya bank menjaga keseimbangan antara penghimpunan dana dan penyaluran kredit.
“Kami juga tidak memaksakan diri untuk menghimpun deposito dalam jumlah besar. Namun untuk tabungan dan giro, kami tetap mengoptimalkan penghimpunannya,” ujarnya.
Gusti menambahkan, capaian laba tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi industri perbankan sepanjang 2025. Dalam pertemuan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pekan sebelumnya, disampaikan bahwa sebagian besar bank, termasuk bank pembangunan daerah, mengalami tekanan kinerja.
“Bank Nagari mungkin tidak dalam kondisi terbaik, tetapi yang terpenting kami masih mampu memberikan kontribusi,” ujarnya.
Kinerja Bank Nagari juga ditopang oleh pertumbuhan unit usaha syariah (UUS). Sepanjang 2025, porsi aset UUS terhadap induk mencapai 19,31 persen, meningkat dibandingkan 18,52 persen pada 2024.
Total aset syariah tercatat sebesar Rp6,49 triliun atau tumbuh 6,28 persen secara tahunan. Pembiayaan syariah mencapai Rp4,63 triliun atau meningkat 14,66 persen, sementara dana pihak ketiga syariah tercatat Rp4,91 triliun atau tumbuh 3,62 persen. Dari kinerja tersebut, laba unit usaha syariah mencapai Rp224,62 miliar atau meningkat 15,43 persen.
“Kinerja syariah tumbuh cukup baik, seiring meningkatnya pemahaman dan edukasi masyarakat terhadap layanan transaksi berbasis syariah,” kata Gusti.
Dengan capaian tersebut, total aset Bank Nagari hingga akhir 2025 sebelum audit tercatat sebesar Rp33,61 triliun atau tumbuh 1,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya.