PADANG - Sebanyak 672 warga Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), terpaksa mengungsi setelah banjir merendam permukiman akibat hujan deras pada Sabtu (10/10/2026).
Di tengah kondisi darurat, pemenuhan kebutuhan pangan, air bersih, perlengkapan tidur, dan layanan kesehatan menjadi persoalan mendesak yang harus segera ditangani.
Camat Kuranji, Rozaldi Rosman mengatakan, para korban banjir saat ini tersebar di tiga lokasi penampungan.
Jumlah pengungsi masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah sesuai perkembangan situasi serta hasil pendataan di lapangan.
“Para pengungsi untuk sekarang tersebar di tiga titik penampungan di wilayah Kecamatan Kuranji,” ujar Rozaldi.
Berdasarkan data sementara, pengungsi terbanyak berada di tenda Lapau Munggu dengan 367 orang.
Sebanyak 250 orang lainnya menempati Mushalla Ar-Ridwan, sedangkan 55 orang mengungsi di Warung Jembatan Guo.
Banjir dipicu hujan deras yang mengguyur Kota Padang sejak siang hingga sore.
Intensitas hujan tersebut menyebabkan sungai meluap dan menggenangi permukiman, sehingga warga harus meninggalkan rumah untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Besarnya jumlah pengungsi membuat ketersediaan bantuan menjadi faktor penting dalam penanganan darurat.
Rozaldi menyebut, kebutuhan logistik masih mendesak untuk memastikan warga memperoleh makanan dan kebutuhan dasar selama berada di tempat penampungan.
“Untuk saat ini yang mendesak masih logistik, Bang,” katanya.
Bantuan yang dibutuhkan meliputi makanan siap saji, nasi bungkus, air mineral, air bersih, beras, telur, mi instan, serta lauk-pauk.
Susu dan makanan tambahan untuk anak-anak juga diperlukan untuk menjaga kecukupan asupan gizi selama masa pengungsian.
Selain pangan, matras, tikar, selimut, kasur lipat, dan terpal dibutuhkan untuk menunjang kenyamanan serta perlindungan warga di lokasi penampungan.
Perlengkapan kebersihan dan sanitasi, seperti sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi, handuk, pembalut wanita, dan popok bayi, juga menjadi kebutuhan penting.
Tanpa ketersediaan sarana kebersihan yang memadai, kondisi pengungsian berisiko menimbulkan persoalan kesehatan tambahan.
Layanan kesehatan perlu mendapat perhatian, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil.
Obat-obatan dasar, perlengkapan pertolongan pertama, serta pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan selama warga bertahan di pengungsian.