PEKANBARU - Perayaan Ceng Beng atau Qing Ming di Pemakaman Tionghoa Umban Sari, Rumbai, kembali menegaskan kuatnya tradisi ziarah leluhur di tengah masyarakat multikultural Kota Pekanbaru.
Pemko menilai ritual tahunan ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga simbol penghormatan nilai keluarga dan keberagaman budaya.
Kadisbudpar Kota Pekanbaru, Akmal Khairi yang hadir mewakili Walikota, menyampaikan apresiasi atas konsistensi warga Tionghoa menjaga tradisi tersebut.
Turut hadir unsur Badan Kesbangpol dan perwakilan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau.
“Tradisi Ceng Beng mempertegas kebudayaan Tionghoa sebagai bagian tak terpisahkan dari keberagaman budaya Pekanbaru. Kami berharap tradisi ini terus diwariskan kepada generasi muda,” ujar Akmal Khairi.
Menurutnya, ritual ziarah leluhur memiliki makna moral yang kuat karena mengajarkan bakti kepada orang tua, mempererat hubungan keluarga, serta memperkuat harmoni sosial di kota yang majemuk.
Puluhan Ribu Peziarah Datang dari Berbagai Daerah
Ketua Yayasan Sosial Panca Bhakti Abadi Pekanbaru, Toni Sasana Surya menjelaskan, puncak Ceng Beng jatuh pada 5 April, namun masyarakat biasanya sudah mulai berziarah sejak 10 hari sebelum hingga 10 hari setelah tanggal tersebut.
“Ceng Beng adalah tradisi penting bagi masyarakat Tionghoa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus momen reuni keluarga,” jelas Toni.
Diperkirakan 25 ribu hingga 30 ribu peziarah memadati Pemakaman Tionghoa Umban Sari tahun ini.
Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia bahkan luar negeri untuk berkumpul bersama keluarga dan melaksanakan sembahyang.
Saat ini kompleks pemakaman tersebut menampung sekitar 5.000 makam serta 1.000 tempat abu jenazah, termasuk makam tanpa identitas atau tanpa ahli waris.
Organisasi Tionghoa bersama lembaga agama Buddha dan pendidikan juga melaksanakan sembahyang bersama di makam tanpa identitas.
“Kami berdoa di makam yang belum dikunjungi keluarga setiap tahun sebagai bentuk kepedulian dan penghormatan,” tambah Toni.
Ritual Ziarah Sarat Makna Simbolik
Perayaan Ceng Beng identik dengan persembahan berupa buah, telur, daging, ikan, dan kue yang dibawa keluarga ke makam leluhur.
Tradisi ini sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota keluarga lintas generasi.
Banyak perantau pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga besar, menjadikan momen ini tidak hanya religius tetapi juga sosial dan emosional.
Jejak Sejarah Festival Qing Ming
Sejumlah sumber menyebut tradisi Qing Ming telah berlangsung sejak masa Kaisar Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming.
Kisahnya berawal ketika sang kaisar kesulitan menemukan makam orang tuanya setelah kembali ke kampung halaman.
Ia kemudian memerintahkan rakyat melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur pada hari tertentu, serta memberi tanda kertas kuning di atas makam yang telah dibersihkan.
Ritual tahunan ini kemudian berkembang menjadi tradisi Ceng Beng yang masih dipraktikkan hingga kini.