PEKANBARU - Setelah pemantauan intelijen tertutup selama 4 bulan, tim gabungan Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai Pusat, Kanwil Bea Cukai Riau, dan BAIS TNI berhasil membongkar gudang penimbunan rokok ilegal berskala nasional di Jalan Riau Ujung, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru, Selasa (6/1/2026).
Dalam operasi yang digelar sekitar pukul 14.25 WIB itu, petugas menemukan 160 juta batang rokok tanpa pita cukai atau setara 16.000 karton berbagai merek.
Total nilai barang diperkirakan mencapai Rp399,2 miliar, sementara potensi kerugian negara dari sektor cukai yang berhasil dicegah mencapai Rp213,76 miliar.
Penindakan ini merupakan hasil analisis risiko dan pengawasan berlapis oleh unit intelijen Bea Cukai pusat dan daerah.
Gudang tersebut diduga menjadi simpul distribusi utama rokok ilegal yang masuk melalui jalur tidak resmi di kawasan pesisir timur Sumatera, sebelum disalurkan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Dirjen Bea dan Cukai, Letjen TNI (Purn) Djaka Budi Utama menegaskan, pengungkapan ini bukan sekadar penindakan rutin, melainkan bagian dari strategi menjaga kedaulatan ekonomi.
“Ini adalah bukti kehadiran negara dalam penegakan hukum cukai. Kami ingin memastikan penerimaan negara terlindungi, persaingan usaha berjalan sehat, dan masyarakat tidak dirugikan oleh peredaran barang ilegal,” ujar Djaka.
Selain menyita seluruh rokok ilegal, petugas juga mengamankan sejumlah orang yang berada di lokasi untuk pemeriksaan awal.
Fokus penyidikan kini diarahkan pada pengungkapan aktor intelektual dan jalur distribusi nasional yang memanfaatkan gudang tersebut sebagai pusat logistik.
Seluruh barang bukti telah diamankan untuk proses hukum berdasarkan UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, dan penyelidikan akan dikembangkan hingga ke hulu dan hilir jaringan.
Operasi ini dinilai sebagai peringatan keras bagi pelaku industri rokok ilegal, khususnya yang memanfaatkan wilayah Sumatera sebagai pintu masuk logistik.
Sinergi lintas instansi ini sekaligus menegaskan arah kebijakan penegakan hukum cukai yang semakin agresif, terukur, dan berbasis intelijen untuk menutup ruang gerak penyelundupan.