www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
28 Nama Lolos Seleksi Administrasi Bos Baru BRKS, Ini Daftar Lengkapnya
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


KPK Periksa SF Hariyanto, Kasus PUPR Riau Masuk Babak Baru
Senin, 27 Juli 2026 - 21:38:58 WIB
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto.(foto: int)
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto.(foto: int)

PEKANBARU – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mendalami perkara dugaan korupsi di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dengan memeriksa Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, Senin (27/7/2026).

Pemeriksaan tersebut menjadi perhatian karena SF Hariyanto dimintai keterangan dalam kapasitasnya sebagai Wakil Gubernur Riau terkait perkara dugaan pemerasan atau permintaan setoran yang dikenal dengan istilah "jatah preman" di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman (PUPR-PKPP) Riau.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo membenarkan adanya agenda pemeriksaan terhadap SF Hariyanto pada hari tersebut.

"Benar, hari ini ada penjadwalan pemeriksaannya," kata Budi Prasetyo.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pemeriksaan SF Hariyanto berlangsung di Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Riau.

Selain dirinya, sejumlah pihak lain juga dikabarkan menjalani pemeriksaan dalam rangkaian pengusutan perkara tersebut.

Mereka antara lain Rafii dan Dahri Iskandar yang disebut sebagai ajudan Gubernur Riau, Siti Aisyah selaku anggota DPRD Provinsi Riau dari Fraksi PKB, Bambang Suwarno yang pernah menjabat mantan Ketua KPID Riau periode 2021-2025, serta Febri Ramadani yang disebut sebagai sopir Gubernur Riau.

Pemanggilan SF Hariyanto berlangsung ketika perkara dugaan korupsi di lingkungan Dinas PUPR-PKPP Riau memasuki fase penting.

Dalam perkara tersebut, KPK telah menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid, mantan Kepala Dinas PUPR-PKPP Riau M Arief Setiawan, serta mantan tenaga ahli gubernur Dani M Nursalam.

Ketiganya kini menjalani proses persidangan dan perkara tersebut telah mendekati tahap putusan.

Sementara itu, mantan ajudan gubernur, Marjani, masih berstatus tersangka dan proses penyidikannya disebut masih berlangsung.

Dengan demikian, pemeriksaan terhadap SF Hariyanto menjadi bagian dari upaya penyidik untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai rangkaian perkara yang tengah ditangani KPK.

Namun, pemeriksaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan keterlibatan seseorang sebagai tersangka.

Status hukum dan kesimpulan mengenai keterlibatan pihak tertentu tetap bergantung pada hasil penyidikan serta proses hukum yang berlaku.

Di sisi lain, proses persidangan perkara yang menjerat Abdul Wahid juga telah memasuki tahapan akhir.

Terdakwa dijadwalkan menyampaikan duplik atau tanggapan terakhir atas replik Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK pada Selasa (28/7/2026).

Duplik merupakan kesempatan terakhir bagi terdakwa dan tim penasihat hukumnya untuk memberikan tanggapan terhadap replik yang sebelumnya disampaikan jaksa.

Dalam sidang replik pada Kamis (23/7/2026), JPU KPK menyatakan tetap mempertahankan seluruh tuntutan pidana yang telah dibacakan sebelumnya.

Jaksa menilai sejumlah dalil dalam nota pembelaan Abdul Wahid tidak sesuai dengan fakta yang terungkap selama persidangan.

JPU juga menilai keterangan Abdul Wahid selama proses persidangan dinilai tidak kooperatif dan berbelit-belit sehingga dianggap menyulitkan proses pembuktian.

"Melalui replik ini, kami bersikap tetap pada tuntutan pidana yang telah dibacakan pada 9 Juli 2026, dan nota pembelaan terdakwa dan advokatnya harus ditolak atau setidak-tidaknya dikesampingkan," kata JPU KPK.

Jaksa kemudian meminta majelis hakim menjatuhkan putusan sesuai tuntutan pidana yang telah disampaikan pada persidangan sebelumnya.

Sementara itu, Abdul Wahid dalam agenda pembelaan pada Senin (20/7/2026) meminta majelis hakim menyatakan dirinya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan jaksa.

Ia juga meminta dibebaskan dari seluruh dakwaan dan tuntutan, dipulihkan hak serta kedudukan dan harkat martabatnya, serta agar barang bukti yang disita dikembalikan sesuai ketentuan hukum.

Abdul Wahid menilai perkara yang menjeratnya dibangun berdasarkan asumsi dan narasi yang menurutnya tidak didukung fakta persidangan.

"Saya melihat dari awal sampai akhir fakta persidangan tidak ada kaitannya dengan saya. Jadi yang dibangun itu narasi, bukan berdasarkan fakta," ujar Abdul Wahid seusai menjalani sidang pledoi.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pembelaan terdakwa yang selanjutnya akan dinilai oleh majelis hakim bersama seluruh fakta dan alat bukti yang terungkap di persidangan.

Dalam perkara ini, JPU KPK sebelumnya menuntut Abdul Wahid dengan pidana penjara selama 8 tahun 6 bulan.

Selain hukuman badan, jaksa juga menuntut denda sebesar Rp500 juta subsider 140 hari kurungan serta pembayaran uang pengganti senilai Rp1,45 miliar.

Jika uang pengganti tersebut tidak dibayarkan, harta benda terdakwa dapat disita dan dilelang untuk menutupi kewajiban tersebut.

Apabila hasil penyitaan belum mencukupi, terdakwa dapat dikenakan tambahan pidana penjara selama tiga tahun.

Perkara ini bermula dari dugaan pemerasan terhadap pejabat di lingkungan Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau pada periode April hingga November 2025.

Dalam dakwaan JPU KPK, sejumlah kepala UPT Jalan dan Jembatan diduga diminta menyerahkan uang setelah adanya pergeseran anggaran di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

Dana yang disebut berhasil dikumpulkan dalam perkara tersebut mencapai sekitar Rp3,55 miliar.

Kini, pemeriksaan terhadap SF Hariyanto menjadi salah satu perkembangan terbaru dalam pengusutan perkara tersebut.

Keterangan yang diperoleh penyidik akan menjadi bagian dari proses pendalaman kasus yang dilakukan KPK, sementara proses hukum terhadap para terdakwa tetap berjalan sesuai tahapan persidangan.

Sumber: tribunpekanbaru.com


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Pansel umumkan 28 calon pimpinan BRKS yang lolos.(ilustrasi/int)28 Nama Lolos Seleksi Administrasi Bos Baru BRKS, Ini Daftar Lengkapnya
Pemutihan pajak di Riau selama bulan Agustus 2026.(ilustrasi/int)Pemutihan Pajak Kendaraan Riau Dimulai 1 Agustus 2026, Tunggakan 5 Tahun Bisa Bayar 2 Tahun
Malaria hantui warga Sinaboi, Rohil.(foto: afrizal/halloriau.com)Malaria Masih Hantui Sinaboi, Warga Rohil Minta Pemerintah Lebih Serius
Syafrudin Iput serap aspirasi warga Rohil.(foto: afrizal/halloriau.com)Pokir Rp11 Miliar Jadi Harapan, Syafrudin Iput Bawa Aspirasi Warga Bangko ke APBD 2027
Ilustrasi.Pajak Alat Berat Jadi Penyumbang PAD Terendah di Riau, Baru Capai 23,6 Persen
  Koalisi Keberlanjutan Media resmi berdiri.(foto: istimewa)20 Organisasi dan Institusi Bersatu, Koalisi Baru Ini Bidik Masa Depan Jurnalisme Indonesia
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto.(foto: int)Gaji ke-13 ASN Rohil-Inhu Beres, Pemprov Riau Masih Kawal Hak Pegawai di Daerah
Jajaran top manajemen PT TAM usai Toyota GAZOO Racing Press Conference di booth Toyota.(foto: istimewa)Toyota GR Makin Diminati, Varian Sporty Sumbang Lebih dari 60% Penjualan
Sebaran titik panas di Sumatera dan Riau sore ini.(infografis/halloriau.com)51 Hotspot Terdeteksi di Sumatera, Riau Sumbang 10 Titik Panas Sore ini
Perjuangan RS Bhayangkara Polda Riau dampingi dua anak osteogenesis imperfecta (foto/ist)3,5 Tahun Dampingi Dua Anak 'Tulang Kaca', RS Bhayangkara Polda Riau Beri Penanganan Komprehensif Tanpa Biaya
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved