ROHIL – Pendidikan menjadi salah satu bekal penting bagi warga binaan untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah menjalani masa pidana.
Melalui program pendidikan kesetaraan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), berupaya memperkuat pengetahuan sekaligus membentuk karakter warga binaan usia produktif.
Program yang dilaksanakan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tersebut terus berjalan dan telah memasuki beberapa kali pertemuan.
Salah satu materi yang diberikan adalah pelajaran sejarah untuk memperluas wawasan kebangsaan dan menanamkan nilai-nilai positif kepada peserta didik.
Kegiatan pembelajaran berlangsung di ruang kelas khusus bernama Lentera Asa, yang disediakan di dalam lingkungan lapas.
Fasilitas ini menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengikuti proses belajar secara terstruktur di tengah keterbatasan akibat menjalani masa pidana.
Kepala Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi, Agus Imam Taufik, mengatakan pendidikan bagi warga binaan tidak semata-mata ditujukan untuk memperoleh ijazah kesetaraan.
Pembelajaran juga diarahkan untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan membangun karakter sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
"Melalui materi sejarah di Ruang Belajar 'Lentera Asa' ini, kami ingin para WBP usia produktif tidak hanya mengejar ijazah kesetaraan, tetapi juga semakin kuat wawasan kebangsaan dan karakternya," ungkap Agus.
Proses belajar mengajar turut melibatkan peserta magang dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) yang telah bertugas di Lapas Bagansiapiapi selama tiga bulan terakhir.
Para pengajar mendampingi warga binaan mempelajari materi sejarah melalui kegiatan di dalam kelas.
Suasana pembelajaran berlangsung interaktif, dengan peserta didik mengenakan seragam, menyimak penjelasan di papan tulis, serta mengikuti diskusi.
Materi sejarah dijadwalkan secara rutin sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman peserta didik mengenai perjalanan bangsa, memperkuat nasionalisme, dan membangun kepribadian yang lebih positif.
Bagi warga binaan usia produktif, akses terhadap pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menjalani pembinaan diharapkan dapat membantu mereka beradaptasi kembali dengan lingkungan sosial.
Penyediaan ruang belajar dan pelaksanaan kegiatan secara rutin merupakan langkah awal dalam memenuhi kebutuhan pendidikan warga binaan.
Namun, keberhasilan program pendidikan kesetaraan juga perlu dilihat dari keberlanjutan pembelajaran, capaian akademik peserta, serta manfaat yang dapat mereka rasakan setelah menyelesaikan masa pidana.
Konsistensi kehadiran peserta, ketersediaan tenaga pengajar, kualitas materi, hingga akses terhadap ujian dan ijazah menjadi sejumlah aspek penting untuk memastikan program berjalan efektif.
Selain itu, pendidikan di dalam lapas idealnya dapat menjadi bagian dari proses reintegrasi sosial.
Bekal pengetahuan dan pembentukan karakter perlu didukung dengan kesempatan melanjutkan pendidikan, memperoleh keterampilan kerja, serta mendapatkan penerimaan yang layak ketika warga binaan kembali ke masyarakat.
Pelaksanaan program pendidikan kesetaraan di Lapas Bagansiapiapi menjadi bagian dari komitmen lembaga tersebut dalam mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026, khususnya pemenuhan hak dasar pendidikan bagi warga binaan.
Melalui ruang belajar Lentera Asa, pembinaan diharapkan tidak berhenti pada aktivitas di dalam kelas, tetapi turut membuka peluang bagi warga binaan untuk memperbaiki masa depan.
Ukuran keberhasilannya pada akhirnya tidak hanya terletak pada terselenggaranya pembelajaran, melainkan juga pada manfaat pendidikan tersebut dalam membantu mereka kembali menjalani kehidupan bermasyarakat.