KUANSING – Festival Pacu Jalur 2026 resmi dimulai di arena Tepian Narosa, Kabupaten Kuansing, Rabu (19/8/2026), yang dibuka langsung Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, dan berlangsung selama lima hari hingga Minggu, 23 Agustus 2026 mendatang.
Tahun ini, antusiasme peserta mengalami peningkatan. Sebanyak 204 perahu jalur dipastikan akan bersaing memperebutkan gelar juara di Sungai Batang Kuantan.
Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 RI, festival ini juga menjadi magnet wisata budaya yang terus menarik perhatian nasional hingga internasional.
Kadispar Riau, Tekad Perbatas mengatakan, jumlah peserta terus bertambah hingga batas akhir pendaftaran.
"Total sampai pendaftaran ditutup ada 204 jalur mendaftar. Pembukaan di hari pertama oleh Pak Plt Gubernur SF Hariyanto di Tepian Narosa," kata Tekad Perbatas, Kamis (20/8/2026).
Festival tahun ini tidak hanya diikuti oleh perwakilan kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Sejumlah tim dari Provinsi Sumbar dan Provinsi Jambi juga ikut meramaikan persaingan di lintasan Sungai Batang Kuantan.
Menurut Tekad, kehadiran peserta dari luar daerah menunjukkan bahwa Pacu Jalur semakin berkembang sebagai ajang budaya yang memiliki daya tarik regional.
"Ada jalur dari Jambi dan Sumbar juga ikut mendaftar. Tentu ini menjadi jalur yang akan berlaga selama event digelar di Batang Kuantan dalam beberapa hari ini," ujarnya.
Panitia menjadwalkan pertandingan berlangsung setiap hari mulai babak penyisihan hingga partai final yang akan digelar pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan perahu tradisional. Tradisi ini telah hidup di tengah masyarakat Kuansing sejak abad ke-17 sebagai bagian dari budaya masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan.
Pada masa kolonial Belanda, perlombaan ini pernah dijadikan bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina setiap 31 Agustus.
Kala itu, pemenang memperoleh hadiah berupa tonggol, yaitu bendera besar yang menjadi simbol kemenangan setiap jalur.
Tradisi tersebut sempat terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia akibat kondisi ekonomi masyarakat yang memburuk.
Namun, setelah Indonesia merdeka, masyarakat Kuansing menghidupkan kembali Pacu Jalur pada 1950 sebagai upaya melestarikan budaya daerah.
Seiring waktu, ukuran perahu terus berkembang. Dari yang semula hanya mampu mengangkut sekitar 7 hingga 15 orang, kini setiap jalur dapat diisi lebih dari 25 pendayung.
Popularitas Pacu Jalur meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Momen penampilan tukang tari di atas perahu yang viral di media sosial pada penyelenggaraan 2025 menjadi salah satu faktor yang memperkenalkan festival ini kepada masyarakat internasional.
Visual atraktif para penari yang tampil di ujung jalur berhasil menarik perhatian warganet dari berbagai negara. Dampaknya, minat wisatawan untuk datang langsung ke Kuansing terus meningkat.
Selain menyaksikan perlombaan perahu tradisional, pengunjung juga dapat menikmati berbagai agenda pendukung, mulai dari pekan raya, pertunjukan seni budaya, hingga penampilan Randai Kuansing dan tarian khas Riau.
Pemprov Riau optimistis penyelenggaraan Festival Pacu Jalur 2026 akan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.