JAKARTA - Sejarah Islam mencatat Tsamamah bin Utsal sebagai contoh nyata bagaimana pendekatan dakwah yang berlandaskan akhlak, kesabaran, dan keteladanan mampu mengubah musuh paling keras menjadi pendukung paling berpengaruh.
Sebelum memeluk Islam, Tsamamah dikenal sebagai penguasa Yamamah dan kepala suku Bani Hanifah yang disegani di Jazirah Arab.
Kedudukannya yang strategis menjadikan Tsamamah salah satu elite Arab pra-Islam dengan pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi dan politik kawasan, termasuk Makkah yang bergantung pada pasokan pangan dari Yamamah.
Penolakan Keras terhadap Islam
Dalam buku Seri Ensiklopedia Anak Muslim: 125 Sahabat Nabi Muhammad karya Mahmudah Mastur, disebutkan bahwa pada tahun keenam Hijriah, Nabi Muhammad mengirim surat dakwah kepada para penguasa Arab.
Salah satu surat itu ditujukan kepada Tsamamah bin Utsal.
Alih-alih menerima ajakan tersebut, Tsamamah justru murka. Ia menolak dakwah Islam dan bahkan menyimpan niat untuk membunuh Nabi Muhammad.
Dalam rangkaian konflik itu, beberapa sahabat Nabi turut menjadi korban.
Ditawan, Namun Dimuliakan
Perjalanan Tsamamah menuju Makkah untuk menunaikan umrah dengan ritual pra-Islam menjadi titik balik hidupnya.
Dalam perjalanan, ia tertangkap oleh pasukan Muslim di sekitar Madinah tanpa diketahui identitas aslinya. Tsamamah kemudian diikat di salah satu tiang Masjid Nabawi.
Alih-alih diperlakukan kasar, Nabi Muhammad justru memerintahkan para sahabat untuk memperlakukannya dengan baik. Tsamamah diberi makanan dan susu unta setiap hari.
Saat Nabi bertanya tentang isi hatinya, Tsamamah menjawab dengan tegas,
“Jika engkau membunuhku, maka darahku akan dituntut. Jika engkau membebaskanku, aku akan berterima kasih.”
Pertanyaan itu diulang hingga tiga hari. Namun Nabi Muhammad mengambil keputusan yang mengejutkan, membebaskannya tanpa syarat.
Hidayah Datang dari Keteladanan
Setelah dibebaskan, Tsamamah mandi dan membersihkan diri, lalu kembali ke Masjid Nabawi. Di hadapan Nabi Muhammad, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Ia mengakui perubahan besar dalam hatinya dengan berkata,
“Demi Allah, tidak ada wajah yang paling aku benci selain wajahmu. Kini, tidak ada wajah yang paling aku cintai selain wajahmu.”
Nabi kemudian mempersilakan Tsamamah melanjutkan umrah sesuai tuntunan Islam.
Talbiyah yang Mengguncang Makkah
Memasuki Makkah, Tsamamah mengumandangkan talbiyah dengan suara lantang:
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk, la syarika lak.”
Teriakan itu menggemparkan kaum Quraisy. Tsamamah tercatat sebagai Muslim pertama yang secara terbuka melantunkan talbiyah di Makkah.
Kemarahan Quraisy memuncak, bahkan seorang di antara mereka hampir membunuh Tsamamah.
Namun upaya itu dihentikan karena Tsamamah adalah penguasa Yamamah. Menyakiti dirinya berarti memutus pasokan gandum ke Makkah.
Boikot Ekonomi yang Mengubah Peta Kekuatan
Setelah kembali ke Yamamah, Tsamamah secara terbuka menyatakan keislamannya dan memerintahkan rakyatnya menghentikan seluruh distribusi bahan pangan ke Quraisy.
Dampaknya segera terasa. Harga bahan makanan melonjak dan kelaparan melanda Makkah.
Situasi tersebut memaksa kaum Quraisy mengirim surat kepada Nabi Muhammad, memohon agar Tsamamah diperintahkan mencabut boikot demi menjaga Perjanjian Hudaibiyah.
Pelajaran Strategis dari Sejarah
Kisah Tsamamah bin Utsal menunjukkan bahwa kemenangan dakwah Islam tidak selalu diraih melalui peperangan, melainkan lewat akhlak, kebijaksanaan, dan strategi yang beradab.
Satu keputusan penuh kasih dari Nabi Muhammad terbukti mampu mengubah arah sejarah dan peta kekuatan ekonomi Jazirah Arab.