PEKANBARU – Persaingan industri otomotif di Provinsi Riau sepanjang Oktober 2026 masih didominasi Toyota dan Daihatsu.
Di tengah kuatnya merek Jepang, kendaraan listrik BYD serta SUV Jaecoo mulai menunjukkan perkembangan penjualan yang menarik di pasar otomotif Bumi Lancang Kuning.
Berdasarkan data registrasi dan distribusi kendaraan bermotor roda empat atau lebih, total penjualan mobil di Riau selama Oktober 2026 mencapai 2.787 unit.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.705 unit merupakan kendaraan penumpang (passenger), sedangkan 1.082 unit lainnya berasal dari kendaraan komersial (commercial).
Toyota menempati posisi teratas dengan penjualan 797 unit, disusul Daihatsu sebanyak 699 unit.
Mitsubishi berada di peringkat ketiga dengan 473 unit, sementara Suzuki mencatatkan 242 unit.
Komposisi tersebut memperlihatkan kuatnya penguasaan merek Jepang terhadap pasar otomotif Riau.
Namun, meningkatnya penjualan sejumlah merek baru juga menjadi indikasi bahwa persaingan tidak lagi hanya bertumpu pada pemain lama.
Toyota dan Daihatsu Kuasai Lebih dari Separuh Pasar
Toyota menjadi merek dengan penjualan tertinggi di Riau pada Oktober 2026. Total 797 unit yang dipasarkan terdiri atas 635 kendaraan penumpang dan 162 kendaraan komersial.
Dominasi Toyota tidak terlepas dari luasnya pilihan produk yang menjangkau kebutuhan keluarga, konsumen perkotaan, hingga pelaku usaha. Segmen MPV dan SUV menjadi salah satu penopang penting penjualan merek tersebut.
Di posisi kedua, Daihatsu membukukan penjualan 699 unit. Rinciannya, 458 unit kendaraan penumpang dan 241 unit kendaraan komersial.
Kombinasi kendaraan keluarga dan mobil niaga ringan membuat Daihatsu tetap kompetitif, terutama di tengah kebutuhan kendaraan untuk aktivitas usaha dan mobilitas masyarakat.
Jika digabungkan, Toyota dan Daihatsu mencatatkan 1.496 unit penjualan atau sekitar 53,7 persen dari total pasar mobil Riau pada Oktober 2026.
Angka ini menunjukkan dominasi dua merek tersebut masih sangat kuat. Lebih dari separuh kendaraan yang terjual di Riau selama periode tersebut berasal dari Toyota dan Daihatsu.
Mitsubishi Kuat di Segmen Kendaraan Niaga
Mitsubishi berada di urutan ketiga dengan penjualan 473 unit. Berbeda dari Toyota dan Daihatsu yang memiliki kontribusi besar dari kendaraan penumpang, Mitsubishi lebih menonjol di sektor komersial.
Sebanyak 307 unit penjualan Mitsubishi berasal dari kendaraan komersial, sedangkan 166 unit lainnya merupakan kendaraan penumpang.
Kendaraan niaga seperti L300 dan Triton menjadi bagian dari portofolio yang menyasar kebutuhan sektor perkebunan, pertambangan, konstruksi, serta berbagai kegiatan usaha di Riau.
Sementara itu, Suzuki membukukan 242 unit penjualan. Kontribusi kendaraan komersial mencapai 183 unit, sedangkan kendaraan penumpang sebanyak 59 unit.
Besarnya kontribusi kendaraan niaga pada Mitsubishi dan Suzuki memperlihatkan bahwa kebutuhan mobil di Riau tidak hanya ditopang konsumsi rumah tangga, tetapi juga aktivitas ekonomi produktif.
Isuzu dan Hino Bertahan di Pasar Kendaraan Berat
Di sektor kendaraan komersial, Isuzu mencatatkan penjualan 123 unit sepanjang Oktober 2026. Seluruh unit tersebut berasal dari segmen kendaraan niaga.
Isuzu tetap memiliki posisi penting dalam kebutuhan transportasi barang, logistik, dan operasional perusahaan yang membutuhkan kendaraan berkapasitas angkut.
Hino menyusul dengan penjualan 38 unit. Seluruh penjualannya juga berada di segmen komersial.
Meski volumenya lebih kecil dibandingkan merek dengan pasar kendaraan penumpang, Isuzu dan Hino memiliki karakter pasar tersendiri.
Permintaan terhadap kedua merek ini berkaitan erat dengan kebutuhan operasional bisnis, distribusi barang, serta transportasi industri.
BYD dan Jaecoo Mulai Mencuri Perhatian
Pergerakan menarik terlihat dari sejumlah merek yang mulai memperkuat posisi di pasar kendaraan penumpang Riau.
BYD, produsen kendaraan listrik asal China, mencatatkan penjualan 61 unit pada Oktober 2026. Seluruh penjualan tersebut berasal dari segmen passenger.
Angka ini memperlihatkan kendaraan listrik mulai memiliki ruang di pasar Riau, meskipun volumenya masih jauh dibandingkan merek-merek konvensional yang telah lama beroperasi.
Jaecoo juga menunjukkan perkembangan dengan penjualan 58 unit kendaraan penumpang.
Di sisi lain, Geely membukukan 35 unit. Honda mencatatkan 133 unit penjualan, seluruhnya berasal dari kendaraan penumpang.
Pergerakan tersebut memperlihatkan pasar mobil Riau mulai diisi oleh semakin beragam pilihan merek.
Konsumen tidak hanya memiliki alternatif dari pabrikan Jepang, tetapi juga merek China yang menawarkan kendaraan dengan teknologi dan karakter produk berbeda.
Merek Lain Ikut Meramaikan Persaingan
Selain merek-merek utama, sejumlah pabrikan lain turut mencatatkan penjualan di Riau selama Oktober 2026.
Wuling membukukan 14 unit, sementara Chery dan Jetour masing-masing mencatatkan 10 unit penjualan.
Meski volumenya relatif kecil dibandingkan Toyota, Daihatsu, dan Mitsubishi, keberadaan merek-merek tersebut memperlihatkan semakin beragamnya kompetisi di pasar kendaraan penumpang.
Persaingan ke depan tidak hanya ditentukan oleh harga kendaraan, tetapi juga pilihan teknologi, layanan purnajual, jaringan diler, ketersediaan suku cadang, serta kemampuan produsen menjawab kebutuhan konsumen lokal.
Pasar Otomotif Riau Masih Bergantung pada Kendaraan Konvensional
Data Oktober 2026 memperlihatkan bahwa kendaraan penumpang masih menjadi segmen terbesar dengan kontribusi sekitar 61,2 persen dari total penjualan mobil di Riau.
Sementara itu, kendaraan komersial menyumbang sekitar 38,8 persen. Porsi tersebut mencerminkan pentingnya aktivitas ekonomi berbasis distribusi, perkebunan, perdagangan, dan sektor usaha lainnya dalam menopang permintaan kendaraan.
Di tengah dominasi merek Jepang, pertumbuhan merek-merek baru menjadi dinamika yang patut dicermati.
Namun, angka penjualan satu bulan belum cukup untuk memastikan perubahan peta persaingan secara permanen.