www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Fortuner Wakil Ketua DPRD Bengkalis Masuk Parit Usai Tabrakan, Diduga Micro Sleep
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Selaksa Senyum Redovan; Penjaga Harapan dan Mimpi Anak Rimba Talang Mamak
Minggu, 09 November 2025 - 05:40:11 WIB
Guru pertama di SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh, Ebib Sandro Mandro, yang pernah meraih SIA tahun 2023 saat tengah mengajar anak-anak Suku Talang Mamak. Guru Ebib kini sudah tak lagi mengajar di situ.
Guru pertama di SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh, Ebib Sandro Mandro, yang pernah meraih SIA tahun 2023 saat tengah mengajar anak-anak Suku Talang Mamak. Guru Ebib kini sudah tak lagi mengajar di situ.

"Bermimpi dan Berdoalah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu."

Andrea Hirata, Sang Pemimpi

Oleh: Andy Indrayanto

Redovan (32) melajukan motornya pelan, melibas jalan tanah becek dan berlumpur di Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Dihindarinya tanah liat yang membentuk gundukan berlumpur dan kubangan air kecoklatan yang keruh di sana-sini, agar roda bannya tak selip. Dia harus hati-hati, karena beberapa hari lalu dirinya terjatuh dari kuda besinya karena rodanya terselip gundukan lumpur. Namun tekadnya tak pernah surut.

Hujan yang mengguyur akses jalan menuju sekolah marginal di Kampung Muaro, Dusun Talang Tanjung, Desa Siambul, kian parah. Di kiri-kanan jalan, hutan penyangga di Kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) berdiri kokoh bagai barisan raksasa penjaga taman nasional dari para penjarah.

Dari sela dedaunan, langit Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menyalak garang. Sinarnya menerbitkan butiran keringat yang keluar dari helm yang dipakai Redovan. Perjalanan menuju Dusun Talang Tanjung sudah tak seberapa jauh lagi. Tawa kanak-kanak terdengar di depan Redovan yang masih melajukan motornya pelan.

Suara ceria itu datang dari sekitar SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh — sekolah sederhana di kawasan penyangga TNBT – tempat anak-anak Suku Talang Mamak menimba ilmu.

Dia tahu, itu suara tawa anak-anak pedalaman yang bersekolah di sekolah yang diprakarsai Dompet Dhuafa (DD) Riau. Redovan menurunkan laju motornya, melihat anak-anak yang baru keluar dari jalur setapak hutan.

Dilihatnya ada delapan, sembilan, oh, sepuluh anak didiknya keluar dari jalan setapak hutan. Anak-anak usia belasan milik masa depan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) itu begitu riang bercanda sesamanya. Sebagian anak-anak ada yang bertelanjang kaki dan sebagian lagi hanya memakai sandal jepit. Wajah mereka berseri khas anak-anak menyambut dunianya, senang dan gembira.

 Mereka menempuh jarak lima hingga delapan kilometer setiap hari untuk sampai ke sekolah ini. Sekolah yang bukan terbuat dari tembok kokoh namun hanya dari papan kayu dengan lantainya semen kasar. Tak ada kaca mengkilat untuk menghalau panasnya matahari, cuma jeruji kawat murahan sebagai pengganti kaca.

Tapi lihatlah anak-anak Talang Mamak itu, meski menimba ilmu di sekolah sederhana namun mereka rela menempuh jarak berkilo-kilo hanya untuk belajar dengan fasilitas seadanya. Di mata anak-anak pedalaman itu, sekolah dari papan yang dibangun oleh tangan-tangan kasar orangtua mereka terlihat bagai gedung yang megah. Karena mereka yakin, dari bangunan sederhana itulah mimpi mereka akan dimulai dengan menulis, membaca dan berhitung.

Menyalakan Cahaya Ilmu di Rimba Talang Mamak

Dilansir Wikipedia, suku Talang Mamak merupakan kelompok masyarakat adat yang hidup di pedalaman Indragiri Hulu, Riau. Suku Talang Mamak sampai saat ini masih hidup dari hasil hutan dan sungai serta tradisi leluhurnya yang masih dipegang teguh. Di tengah kehidupan yang serba terbatas, pendidikan menjadi suatu hal yang mewah bagi mereka dan bukan hal yang mudah diakses.

Di mata Redovan, anak-anak suku Talang Mamak itu bagaikan "Laskar Pelangi" di kabupaten yang dijuluki Bumi Serumpun Sebalai. Novel anak-anak Laskar Pelangi besutan Andrea Hirata seperti menjelma dalam diri mereka yang rela menempuh jarak dan akses yang ekstrem hanya untuk mendapatkan ilmu.

"Semangat mereka yang membuat saya bertekad mendirikan sekolah di sini, karena anak-anak itu menjadi inspirasi bagi saya untuk terus maju, menghalau rintangan yang ada," tegas Redovan pada penulis, pertengahan Oktober lalu.  

Guru Ebib saat tengah mengajarkan membaca pada salah satu anak-anak suku Talang Mamak.

Jauh sebelum SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh yang berada di Dusun Talang Tanjung berdiri di tahun 2019, Redovan yang diserahi tanggung jawab program pendidikan di DD Riau kerap mendengar keluh kesah para tokoh adat tentang anak-anak mereka yang ingin sekolah.

Keinginan yang kuat pada orangtua anak-anak Talang Mamak namun dibatasi ketiadaan. Tak ada guru, juga tak ada bangunan sekolah. Bagai harapan yang terpenggal karena keterbatasan.

"Jangankan guru atau bangunan sekolah, bahkan akses ke Dusun Talang Tanjung pun tak bisa dilalui jika hujan turun," suara Redovan lirih.

Cerita Redovan, awalnya ada pengajuan dari Kepala Dusun dan warga untuk mendirikan sekolah di Dusun Talang Tanjung. Organisasi kemanusiaan DD Riau menyambut baik permintaan ini, karena hal tersebut sejalan dengan misi lembaga filantropi Islam itu yang salah satu programnya menghadirkan pendidikan bagi wilayah pedalaman.

Tahun 2018, menjadi awal langkah panjang Redovan bolak-balik Belilas – Talang Tanjung, menempuh perjalanan 3,5 hingga 4 jam menuju Dusun Talang Tanjung untuk merealisasikan rencana pendirian sekolah bagi anak-anak Suku Talang Mamak itu.

"Sekitar tahun 2018-2021, masih ada kantor unit DD Riau di Belilas dan saya tinggal di situ," katanya.

Menempuh perjalanan jauh, Redovan kadang naik motor kadang juga naik mobil. Bahkan pernah mobil yang dikendarainya terperosok di tanjakan licin dan nyaris jatuh ke jurang. Saat peristiwa itu, ia baru pulang dari Dusun Talang Tanjung usai koordinasi dengan para pemuka dusun.

"Tapi untungnya mobil terlempar ke tebing, bukan ke bawah," Redovan tersenyum getir, matanya menerawang seolah terbayang kembali peristiwa itu.

Namun perjuangan takkan pernah mengkhianati hasil. Kegigihan Redovan rupanya tak seperti menggoreskan tulisan di atas air namun malah memahat di hati masyarakat Dusun Talang Tanjung. Segala lelah dan capai selama ini seolah-olah terasa ringan karena animo warga yang begitu tinggi. Apalagi saat mendirikan sekolah, masyarakat saling bahu-membahu; ada yang mengangkut batu, pasir, dan kayu.

Anak-anak suku Talang Mamak tersenyum senang saat menerima bantuan perlengkapan sekolah didampingi Redovan Jamil (kaos hijau), penerima SIA tahun 2023.

"Ada warga yang mengambil air dari sungai, pasir dan batu. Kalau material seperti semen dan hal-hal seperti itu kita beli, lalu diangkut bersama-sama. Tapi gotong royong warga saat pembangunan sekolah semi permanen itu menjadi penyala semangat bagi anak-anak yang melihat langsung orangtuanya bekerja membangun sekolah," ujarnya tersenyum.

Empat bulan kemudian, di tengah rimba Sumatera, berdiri bangunan sekolah yang terbuat dari papan dengan lantai yang hanya dicor sekedarnya yakni SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh.

Di sampingnya berdiri masjid bernama Masjid Mahmoud Kunj, sumbangan donatur DD Australia. Di tanah yang dulu ditumbuhi pohon-pohon dan semak belukar, kini berdiri simbol mimpi dan harapan anak-anak Talang Mamak.

"Saat membangun sekolah dan Masjid Mahmoud pekerjaan itu dilakukan tukang profesional namun melibatkan masyarakat sehingga mereka gotong royong dalam menuntaskan pembangunan," kata Redovan seraya menyebutkan bahwa untuk dana pembangunan berasal dari para donatur DD Riau.

Penjaga Harapan dan Mimpi Anak-Anak Pedalaman

Di awal sekolah berdiri, dari 36 Kepala Keluarga (KK) ada sekitar 24 siswa yang bersekolah. Semuanya anak-anak pedalaman Talang Mamak yang berada di Dusun Talang Tanjung. Umur mereka variatif, dari 7 sampai 14 tahun dan belum pernah bersekolah.

"Jadi semua anak itu kita jadikan kelas 1," katanya.

Redovan mengatakan tidak semua anak-anak suku Talang Mamak langsung mau bersekolah. Mereka beranggapan orang tua mereka saja tidak bersekolah meski para orangtua lah yang semangat membangun sekolah untuk anak-anaknya. Apalagi mereka masih anak-anak yang belum sadar pentingnya sekolah bagi kehidupan mereka kelak.

"Tapi setelah diberikan edukasi saat pertemuan rutin dengan wali murid dan komite sekolah, pelan-pelan orang tua mereka malah menegaskan anak-anaknyaa untuk bersekolah. Ya, meski sampai saat ini masih ada juga anak-anak yang malas-malasan ke sekolah," Redovan tertawa kecil.

Tantangan lain muncul yakni mencari guru yang bersedia mengajar di daerah terpencil dan penuh keterbatasan. Bayangkan saja; tak ada listrik, tak ada sinyal, dan akses menuju sekolah marginal itu sangat berat.

Sebagian jalur jalan menuju SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh, yang harus ditempuh Redovan saat hendak mendirikan sekolah bagi anak-anak Suku Talang Mamak. ndy

Perlu waktu cukup lama mencari guru yang bersedia mengajar di sekolah tersebut. Sampai akhirnya datanglah guru Ebib Sandro Mandro, yang mau mengajar di lokasi terpencil itu.

"Ebib berasal dari desa sebelah, Desa Rantau Langsat," terang Redovan.

Guru Ebib mengajar dengan segala keterbatasan yang ada namun itu dilakoninya selama dua tahun dengan dedikasi yang tinggi. Selama mengajar di sekolah marginal SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh itu, guru Ebib tak pernah mengeluh. Kendati jika hari hujan, dia terpaksa harus berjalan kaki menempuh empat jam untuk sampai ke sekolah.

"Ebib guru pertama di SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh. Dia tak pernah mengeluh dengan segala rintangan yang ada," puji Redovan.

Dedikasinya mengajar pada anak-anak suku Talang Mamak di pedalaman Inhu itu tak sia-sia, di tahun 2021 guru Ebib menerima apresiasi SATU Indonesia Award dari PT. ASTRA International Tbk. 

Jejak-Jejak Ketulusan di Pedalaman Talang Mamak  

Meski kini, guru Ebib Sandro Mandro tak lagi mengajar karena masa baktinya telah habis dan tak melanjutkan kontraknya, namun sosoknya turut menyalakan semangat belajar anak-anak di pedalaman Inhu selama dua tahun.

Guru Ebib pernah menjadi penjaga harapan dan mimpi anak-anak pedalaman yang rindu akan pendidikan sebelum memutuskan tak melanjutkan kontrak.

"Guru Ebib mengajar selama dua tahun, dari tahun 2019-2022. Dilanjutkan guru Ilham  dari tahun 2022-2024, kemudian dilanjutkan Guru Hairul Dani dan Helmi Fahzi Januari namun hanya bertahan 4 bulan saja sampai April 2025. Saat ini, ada dua tenaga pengajar di sana yakni Guru Ilham Padli dan Habib Aljufri Rahman, dari Juni 2025," jelasnya.

Ditanya soal tempat tinggal dua guru tersebut dan strategi mereka berkomunikasi untuk melaporkan perkembangan sekolah, Redovan menjelaskan bahwa di samping gedung sekolah berdinding papan itu, ada satu rumah dinas sederhana.

Selama ini, di sanalah para guru yang mengabdi di pedalaman Talang Mamak beristirahat setelah seharian mengajar anak-anak di tengah hutan.

Komunitas Relawan Muda Caraka (RMC) melakukan kegiatan bersama dengan anak-anak Suku Talang Mamak yang bersekolah di SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh Dusun Talang Tanjung.

"Soal keterbatasan jaringan komunikasi memang menjadi tantangan tersendiri. Tapi kami ada grub Whatsapp (WA) khusus dengan para guru sehingga informasi diberikan di grup WA itu. Para guru harus menempuh perjalanan sejauh dua hingga tiga kilometer mendaki bukit hanya untuk mendapatkan sinyal. Di sanalah mereka biasanya membalas pesan di grup WhatsApp khusus para guru, yang menjadi penghubung antara mereka dengan dunia luar," bebernya.

Lanjutnya, para guru di akhir bulan akan mengirimkan laporan apa saja yang telah mereka lakukan selama sebulan dan rencana bulan depan, serta kendala yang dihadapi di lapangan.

"Semua itu kita bahas dalam video call singkat, karena koneksi internet di kawasan itu tak cukup kuat untuk mengandalkan Zoom," kata Redovan seraya mengatakan bahwa koordinasi seperti itu membuat semangat para guru tetap hidup dan mengikat mereka dalam satu tekad yakni menjaga nyala pendidikan di rimba Talang Mamak.

Saat ini, data bulan Agustus 2025 lalu, tercatat jumlah siswa yang belajar di sekolah marginal itu mencapai 30 anak yang sudah masuk di Dapodik sekolah induk.  

"Meski jumlahnya tak seberapa tapi semangat belajar anak-anak itu luar biasa. Setiap hari mereka berjalan kaki menembus hutan, jalan berlumpur demi bisa membaca, menulis, dan berhitung bersama guru-guru muda yang datang membawa cahaya pengetahuan," terang Redovan.

Kata Redovan, selama ini semua kegiatan para guru terdokumentasi dalam rekapan harian dan laporan bulanan sehingga menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan kasih yang mereka tanamkan di rimba Talang Mamak itu tak pernah hilang jejaknya.

Apresiasi SATU Indonesia Awards untuk Dedikasi Anak Negeri Suku Talang Mamak

Tak pernah terpikir dalam benak Redovan, jika suatu saat kegigihannya menyalakan harapan dan mimpi anak-anak Suku Talang Mamak hingga terwujud bangunan sekolah di Dusun Talang Tanjung, membuatnya meraih apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards (SIA) di tahun 2023.  

Laki-laki yang sudah meraih S2 di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Riau ini mendapatkan penghargaan yang diberikan PT Astra International Tbk untuk kategori bidang pendidikan tingkat Provinsi. Dia tak pernah menyangka apalagi bermimpi, bahwa usaha dan kerja kerasnya di suku pedalaman ternyata mendapat perhatian.

"Saya tak pernah menyangka apa yang saya lakukan ini mendapat sorotan. Padahal apa yang saya lakukan ini semata hanya bentuk kepedulian terhadap sesama, khususnya suku asli di pedalaman Riau," kata Redovan yang mengambil jurusan pendidikan untuk S1 dan S2-nya, sehingga hal itu membuatnya merasa terpanggil untuk melakukan aktivitas pendidikan bagi suku pedalaman di Riau, yang selama ini terpinggirkan.

Dia mengatakan bahwa apresiasi SATU Indonesia Award di tahun 2023 dari PT Astra International itu tak pernah disangkanya sama sekali. Pikirannya sederhana saja saat mulai menyalakan harapan anak-anak Suku Talang Mamak yakni bahwa anak-anak pedalaman juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak kota.

"Pendidikan bukan monopoli anak-anak kota saja tapi juga milik anak-anak pedalaman yang jauh dari hiruk pikuk kota, mereka berhak mendapatkan hal yang sama. Anak-anak suku Talang Mamak juga sama seperti anak-anak kota lainnya yang ingin maju, mereka punya harapan dan mimpi yang sama. Saya percaya itu," sambungnya optimis.

Atas raihan apresiasi SIA di tahun 2023 ini, dampaknya dirasakan Redovan yakni bersama para penerima SIA membuat program bersama untuk menunjang aktivitas di pedalaman. Hasilnya, semakin banyak sejumlah komunitas seperti Komunitas Pekanbaru 4WD Adventure (P4WDA), TLCI dan Komunitas Relawan Muda Caraka serta donatur-donatur lainnya memberikan sumbangan perlengkapan sekolah dan seragam pada anak-anak pedalaman.

"Pertengahan Februari 2025 lalu, kami ada program Sapa Sekolah #9 dari Komunitas Relawan Muda Caraka, Mercedes Jeep Indonesia, PT. Asean Green Pratama Pekanbaru  bersama Toyota Land Cruiser Indonesia (TLCI) Chapter Riau yang dikoordinir Dompet Dhuafa. Dalam kegiatan itu, para donatur menyalurkan donasi paket pendidikan berupa perlengkapan sekolah siswa, seperti tas, sepatu dan kaos kaki, sandal, seragam sekolah merah putih, buku, alat tulis, penggaris dan kotak pensil lengkap dengan isinya serta pakaian dalam anak," terangnya.

Selain itu, disalurkan juga perlengkapan guru, seperti sepatu serta perlengkapan sekolah. Untuk perlengkapan sekolah, seperti spanduk plang nama sekolah, tong sampah, bola dunia, poster edukasi, spidol dan kebutuhan keterampilan, alat olahraga dan permainan lego serta bibit tanaman buah-buahan.

Lanjutnya, dalam kegiatan itu juga para relawan dan donatur melakukan kegiatan kesehatan yakni mengajarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada para siswa serta program edukasi lingkungan yakni edukasi sampah seperti pengenalan jenis-jenis sampah, dampak sampah terhadap lingkungan dan pengelolaan sampah serta kegiatan penanaman pohon.

Namun bagi Redovan, apresiasi SIA yang diperolehnya bukanlah akhir perjuangannya, justru menjadi pelecut baginya untuk terus berjuang menjaga agar semangat itu tetap menyala di rimba Talang Mamak.

Harapan Tak Kunjung Putus dari Tengah Rimba  

Kepala Dusun (Kadus) Siambul, Desa Kampung Baru, Nurhadi (49), menceritakan pada penulis kegigihan Redovan saat mendirikan SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh itu. Menurutnya, di tahun 2019 itu, saat Nurhadi menjabat sebagai Kadus Siambul, dia disuruh oleh Kepala Desa untuk menjabat juga sebagai Kadus Talang Tanjung.

"Waktu itu Kadus Talang-Tanjung-nya sedang ada masalah hingga saya diperintahkan Pak Kades menghandle ketertiban yang berada di dusun tersebut," Nurhadi memulai ceritanya pada penulis via seluler, akhir Oktober lalu.   

Ketika nyambi jadi Kadus Talang Tanjung itu, dia mendapati ada satu RT dengan beberapa Kepala Keluarga namun tidak ada sekolah dan juga tidak ada anak-anak yang sekolah. Meski mayoritas non muslim tapi dia prihatin juga melihatnya.

"Akhirnya kami cari solusi dan bertemu dengan Ustad Helmi Antoni. Dari situ, terus kami berjumpa dengan Bang Redovan, yang akhirnya mau membantu mendirikan sekolah di situ dengan DD Riau-nya," terang Nurhadi.

Diakui Nurhadi yang pernah menjadi Kadus Talang Tanjung sementara kurang-lebih setahun ini, bahwa lokasi sekolah yang berada di pedalaman dan akses yang sulit membuat kendala sendiri saat mencari guru yang mau mengajar di situ.

"Mungkin karena lokasinya terlalu jauh makanya agak kesulitan mencari guru," kata Nurhadi, yang saat ditelpon penulis harus mencari dataran tinggi agar komunikasi bisa lancar.

Laki-laki yang mengaku asli Magetan-Jawa Timur dan pindah ke Dusun Siambul tahun 2008 itu, menyatakan apresiasinya dengan DD Riau yang mau mendirikan sekolah di pedalaman Talang Mamak.

Juga dengan sosok Redovan yang sudah ber-tekuk lumus – istilah Melayu – atau bekerja keras tanpa mengenal lelah sehingga anak-anak Suku Talang Mamak bisa mengenyam bangku sekolah.

"Terus terang kami sebagai orangtua sangat senang karena anak-anak jadi bisa baca tulis, bisa tahu pendidikan. Padahal sebelumnya mayoritas orang di situ tak sekolah, kalau sekolah pun jauh. Sekarang, meski SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh masih berstatus kelas jauh tapi setidaknya sudah banyak anak-anak pedalaman yang bisa bersekolah di situ. Bisa mengenal pendidikan," kata Nurhadi. Terasa getar suara bahagia dari balik seluler di sana dirasakan penulis.

Hal yang kurang lebih sama diceritakan Ustad Helmi Antoni (51) saat awal pendirian SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh. Dikatakannya, bertemu dengan Redovan di tahun 2018 membahas pendirian sekolah di Dusun Talang Tanjung, mereka menghadap ke salah satu pemuka adat bersama Nurhadi untuk mengutarakan niatnya itu.

"Tak disangka, pemuka adat langsung setuju bahkan menghibahkan tanahnya 50x50 meter untuk lokasi pendirian sekolah," terang Ustad Helmi pada penulis via selulernya, awal November lalu. Suaranya terdengar sumringah saat menceritakan kenangan itu.

Cerita Ustad lagi, padahal saat itu mereka mengutarakan niat juga untuk mendirikan mesjid di lokasi sekolah. Ternyata pemuka adat itu malah memperbolehkan padahal non muslim.

"Pemuka adat itu mempersilahkan kami untuk mendirikan mesjid padahal pemuka adat itu beragama Katolik, karena bagi dia yang penting ada sekolahnya, habis perkara. Rupanya pemuka adat itu sudah lama menginginkan ada sekolah di Dusun Talang Tanjung," terang Ustad Helmi yang asli dari Seberida, Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Inhu ini.

Ustad kelahiran tahun 1974 ini, menyatakan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi DD Riau yang telah menyentuh masyarakat pedalaman. Sebelumnya di Desa Rantau Langsat, lembaga Islam yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan itu juga mendirikan Sekolah dasar yang lokasinya tepat di jantung kawasan TNBT.

Ustad Helmi yang saat ini sudah pindah di Ibukota Kecamatan Batang Gangsal yakni Seberida, mengatakan bahwa sekolah yang berada di Dusun Talang Tanjung itu benar-benar dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat.

"Jangan sampai sekolah itu berhenti bahkan bilamana perlu ditingkatkan lagi, apalagi sekolah itu dibangun oleh DD Riau yang memiliki misi dakwah juga," kata Ustad Helmi yang kini menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Furqon Bukit Tiga Puluh di Kecamatan Batang Gangsal.

Dia mengatakan sebagai Ketua YPI Al-Furqon, saat ini sudah ada delapan (8) siswa dari Lokal Jauh yang akan lulus berencana melanjutkan ke yayasan yang dipimpinnya. Kelak, ke delapan anak-anak dari Suku Talang Mamak itu akan dia kawal untuk bisa melanjutkan ke sekolah yang dikelolanya.

Kepala Sekolah SDN 016 Kampung Baru yang berada di Desa Siambul, Kecamatan Batang Gangsal, Nurzaidah, S.Pd, SD, mengakui bahwa SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh yang diprakarsai oleh DD Riau memang menginduk ke SDN 016 Kampung Baru yang dipimpinnya.

"Di kelas jauh itu siswanya kurang lebih 30 orang. Sementara untuk sarana dan prasarana di sekolah Kelas Jauh itu semuanya disediakan DD Riau," terang Nurzaidah pada penulis via selulernya.

Dia menjelaskan sebagai sekolah induk maka pihaknya bertugas untuk memastikan semua siswa yang berada di Lokal Jauh SDN 016 Kampung Baru itu benar-benar sudah terinput di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) agar mereka diakui secara resmi sebagai siswa. Semua sudah masuk hanya ada sedikit kendala di administrasi kependudukannya.

"Kebanyakan anak-anak di pedalaman sering terkendala di situ. Kadang orang tuanya belum punya NIK, sehingga data mereka tidak bisa langsung masuk ke Dapodik. Tapi saya selalu menekankan agar masalah itu segera diselesaikan," tandasnya.

Nurzaidah mengakui dirinya jika datang ke Lokal Jauh itu saat ada tim DD Riau yang turun ke lokasi tersebut. Pasalnya, akses menuju lokasinya cukup jauh. Dari rumahnya saja ke sekolah induk yakni SDN 016 Kampung Baru sudah jauh, apalagi ke lokasi Lokal Jauh itu, lebih masuk ke pedalaman. Biasanya kalau ada kegiatan dari DD Riau, dia akan ikut mendampingi.

"Setiap setengah bulan atau sebulan sekali, parap pengajar DD Riau itu selalu rutin datang ke sekolah induk untuk berkonsultasi dengan saya. Kalau ada keperluan atau kendala, mereka selalu berkoordinasi," ujarnya.

Ditanya soal penempatan guru P3K di sana, Nurzaidah menjelaskan bahwa sebenarnya dirinya berharap bisa ditempatkan guru P3K di sana. Namun jika boleh memilih, dia lebih mengharapkan guru dari DD Riau saja yang mengajar di situ. Pasalnya, mereka sudah mengenal kondisi lapangan, memahami karakter masyarakat, dan punya semangat tinggi.

"Kalau guru baru yang ditempatkan, dikhawatirkan tidak kuat menghadapi medan karena akses yang sulit," imbuhnya.

Dikatakannya, kendala lainnya soal penempatan P3K adalah adanya aturan dalam UU ASN yang menyebutkan bahwa sejak Oktober 2023 tidak boleh lagi mengangkat guru honor atau memasukkan guru baru ke dalam Dapodik. Di situlah persoalannya, karena itu guru-guru yang mengajar di Lokal Jauh belum bisa dimasukkan ke sistem, padahal mereka sudah aktif sejak tahun ajaran baru ini.

Lepas dari persoalan itu, Nurzaidah memiliki harapan membumbung tinggi bagi anak-anak pedalaman itu. Dia menginginkan putra-putri rimba Talang Mamak itu bisa tetap sekolah meski dalam kondisi apa pun. Karena itu, tiap kali datang dirinya selalu menekankan ke warga agar anak-anak harus terus belajar jangan sampai terputus.

"Sayang sekali kalau sampai terputus meskipun pendidikan di sana belum sempurna seperti sekolah lain tapi antusiasme masyarakatnya luar biasa. Mereka benar-benar ingin anak-anaknya bersekolah," tegasnya.

Hal lain yang menjadi kekhawatiran Nurzaidah saat ini, jika anak-anak itu telah lulus nanti mereka akan melanjutkan ke mana. Memang beberapa waktu lalu dirinya sempat berbincang dengan Ustadz Helmi Antoni, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Furqon Bukit Tiga Puluh. Katanya, Ustadz Helmi menyampaikan kesediaannya menampung anak-anak itu.

"Atau memang bisa juga setelah lulus nanti, mereka masuk ke sekolah rakyat. Kalau tahun depan di Kabupaten Inhu dibangun Sekolah Rakyat tingkat SMP, anak-anak itu bisa melanjutkan pendidikannya di sana. Pokoknya, saya selalu tekankan satu hal: dalam kondisi apa pun, anak-anak itu harus tetap sekolah, jangan sampai tidak!"

Bagi Redovan, harapannya sendiri sederhana yakni SDN 016 Kampung Baru Lokal Jauh itu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Artinya, perlu dipertimbangkan untuk mengirim guru P3K yang ditugaskan khusus di daerah pedalaman Kabupaten Inhu agar SDM guru di sana selalu ada sehingga sekolah tersebut bisa berkembang.

"Kita juga berharap, tak hanya pemerintah yang ikut terlibat tapi lembaga swasta juga bisa membantu pendidikan di sana, seperti biaya operasional sekolah dan lain-lain," katanya.

Kegigihan, perjuangan dan jejak-jejak tetesan keringat Redovan yang tak terhitung sejak 2018, mungkin akan menuai hasilnya beberapa tahun ke depan. Namun yakinlah, kelak dari tangan-tangan kecil dan ketulusan serta semangat mereka akan tumbuh generasi terbilang dari suku pedalaman, yang bukan hanya mampu menatap dunia dengan percaya diri tetapi juga mampu menjaga adat istiadat warisan leluhur. Semua itu berkat selaksa senyum Redovan yang selalu menjaga harapan dan mimpi anak-anak pedalaman. Semoga!***



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Fortuner yang ditumpangi Wakil Ketua DPRD Bengkalis terperosok ke dalam parit.(foto: mcr)Fortuner Wakil Ketua DPRD Bengkalis Masuk Parit Usai Tabrakan, Diduga Micro Sleep
Pemko Pekanbaru tambah belasan bus listrik untuk TMP.(foto: int)Pekanbaru Tambah 16 Bus Listrik dan Feeder, Transportasi Publik Makin Nyaman
Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau, Ahmad Tarmizi.60 Tahun Berkiprah, DPRD Riau Dorong BRK Syariah Jadi Pilihan Utama Pelaku Usaha
Prakiraan cuaca di Riau hari ini.(infografis/AI)Siaga Cuaca Ekstrem! Ini Daftar Wilayah Riau yang Berpotensi Hujan Lebat
21 Tahun Harian Pagi Metro Riau.Dua Dekade Lebih Metro Riau, Konsisten Hadir untuk Masyarakat
  Gubernur Kepri, Anshar Ahmad kukuhkan pengurus IWKR Pekanbaru.(foto: istimewa)Halal Bihalal Pemprov Kepri di Pekanbaru Jadi Ajang Konsolidasi Perantau
Sebaran titik panas di Riau hari ini.(infografis/AI)13 Titik Panas Muncul di Riau Hari Ini, Bengkalis Masih Terbanyak
RSUD Tengku Rafian Siak.Polemik Dokter Spesialis dan Pemkab Siak Belum Usai, Soroti Keadilan Pembayaran
ilustrasi.Pemerintah Batasi BBM Subsidi, Ini Rincian Kuota Harian Kendaraan
Bupati Siak, Afni Zulkifli.Bupati Siak Lantik PAW Bapekam Sungai Apit, Tekankan Sinergi dan Pengawasan
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved