PEKANBARU - Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera kembali meningkat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat total 183 titik panas (hotspot) terdeteksi pada Senin (2/3/2026), dengan Provinsi Riau menjadi salah satu penyumbang terbesar.
Forecaster On Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Alfa Nataris mengungkapkan, dari total tersebut, Riau mencatat 48 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 183 titik. Untuk Provinsi Riau terdapat 48 titik yang tersebar di beberapa daerah,” ujarnya.
Dari data yang dirilis, Kabupaten Rokan Hilir menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Riau, yakni 19 titik.
Disusul Kabupaten Siak dan Indragiri Hilir masing-masing 6 titik, serta Rokan Hulu 5 titik.
Sebaran lainnya meliputi Kabupaten Bengkalis 2 titik, Kampar 3 titik, Kuantan Singingi 2 titik, Pelalawan 3 titik, Kota Dumai 1 titik dan Pekanbaru 1 titik.
Kondisi ini menunjukkan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah pesisir dan lahan gambut yang rentan terbakar saat cuaca kering.
Selain Riau, sejumlah provinsi lain di Sumatera juga mencatat angka signifikan. Sumatera Utara menempati posisi tertinggi dengan 35 titik, disusul Sumatera Selatan 21 titik, dan Aceh 20 titik.
Rincian lainnya, Sumatera Barat 17 titik, Bangka Belitung 17 titik, Bengkulu 11 titik, Jambi 10 titik dan Kepulauan Riau 4 titik.
Menurut Alfa, pemantauan dilakukan melalui satelit dengan tingkat kepercayaan tertentu untuk mendeteksi indikasi kebakaran lahan.
BMKG mengimbau seluruh pihak, terutama pemerintah daerah dan masyarakat, meningkatkan kewaspadaan.
“Kami mengingatkan agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca kering seperti sekarang. Potensi api cepat meluas,” pungkasnya.