PEKANBARU – Aktivitas titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera kembali meningkat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 148 hotspot terpantau di berbagai provinsi di Pulau Sumatera pada Jumat (6/3/2026).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizky Adelia mengungkapkan, sebaran titik panas tersebut menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini mencapai 148 titik yang tersebar di beberapa provinsi,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan satelit BMKG, Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 70 titik.
Sementara itu, beberapa provinsi lain juga mencatat temuan titik panas dengan jumlah bervariasi, seperti Sumatera Utara 31 titik, Jambi 14 titik, Sumatera Selatan 10 titik, Riau 15 titik, Bangka Belitung 5 titik dan Sumatera Barat 3 titik.
Menurut Bella, pemantauan hotspot dilakukan melalui sistem satelit yang berfungsi mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
“Hotspot merupakan indikator awal yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda adanya aktivitas pembakaran lahan maupun potensi kebakaran hutan,” jelasnya.
Untuk wilayah Provinsi Riau, BMKG mendeteksi 15 titik panas yang tersebar di empat kabupaten.
Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 7 titik, disusul Rokan Hulu 4 titik, Kampar 3 titik, dan Pelalawan 1 titik.
Data ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah dan tim penanggulangan karhutla, mengingat Riau termasuk wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan saat memasuki periode cuaca kering.
BMKG menegaskan, keberadaan hotspot tidak selalu berarti terjadi kebakaran, namun dapat menjadi indikasi awal aktivitas panas di permukaan bumi yang perlu diverifikasi lebih lanjut di lapangan.
Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, aparat, dan tim pemadam kebakaran sangat penting untuk memastikan potensi kebakaran dapat ditangani lebih cepat.
“Pemantauan hotspot terus dilakukan secara berkala sebagai bagian dari sistem peringatan dini karhutla di wilayah Sumatera, termasuk Provinsi Riau,” pungkasnya.