PEKANBARU – Menjelang arus mudik Lebaran 2026, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera kembali menjadi sorotan.
Data terbaru dari BMKG menunjukkan lonjakan signifikan titik panas (hotspot), dengan Provinsi Riau menjadi wilayah paling dominan.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris mengungkapkan, total hotspot di Sumatera pada Rabu, 18 Maret 2026 mencapai 267 titik.
“Sebaran hotspot hari ini terpantau cukup tinggi di Sumatera, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Riau,” ujarnya.
Dari total tersebut, Riau mencatatkan 162 titik panas atau lebih dari separuh total hotspot di Sumatera. Angka ini menempatkan Riau sebagai wilayah dengan potensi karhutla paling tinggi saat ini.
Dua daerah dengan jumlah hotspot tertinggi berada di Kabupaten Pelalawan (61 titik) dan Kabupaten Bengkalis (46 titik). Disusul Kota Dumai dengan 41 titik.
Sementara itu, daerah lain di Riau tercatat relatif rendah, seperti Rokan Hilir (10 titik), serta Kampar, Kepulauan Meranti, Siak, dan Indragiri Hilir yang masing-masing hanya 1 titik.
Selain Riau, beberapa provinsi lain juga mencatat kemunculan hotspot meski dalam jumlah lebih kecil.
Kepulauan Riau terdeteksi 30 titik, Bangka Belitung 19 titik, serta Aceh dan Jambi masing-masing 12 titik.
Lampung dan Sumatera Selatan masing-masing mencatat 10 titik, Sumatera Utara 8 titik, Bengkulu 2 titik, dan Sumatera Barat hanya 1 titik.
Meningkatnya jumlah hotspot ini menjadi perhatian serius, terutama menjelang puncak arus mudik Lebaran.
Kondisi cuaca kering di sejumlah wilayah dinilai berkontribusi terhadap kemunculan titik panas.
BMKG mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama di wilayah rawan.
“Perlu sinergi semua pihak untuk mencegah karhutla, khususnya di daerah dengan hotspot tinggi,” pungkasnya.