PEKANBARU - Laporan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat adanya puluhan titik panas yang tersebar di wilayah Sumatera hingga Senin sore (27/4/2026).
Data yang diperbarui pada pukul 16.00 WIB menunjukkan total 46 hotspot terdeteksi, mengindikasikan potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, mengungkapkan bahwa sebaran titik panas masih didominasi oleh beberapa provinsi dengan angka cukup signifikan.
“Pemantauan kami hingga sore ini mencatat total 46 titik panas di Sumatera, dengan konsentrasi tertinggi berada di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 26 titik. Disusul oleh Jambi dengan 13 titik, serta Aceh yang mencatat 9 titik panas. Sementara itu, Riau terpantau memiliki 18 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota.
Di Provinsi Riau, Kota Dumai menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 7 titik. Kabupaten Siak menyusul dengan 4 titik, kemudian Kabupaten Pelalawan sebanyak 3 titik. Kabupaten Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu masing-masing mencatat 2 titik panas.
Ranti menambahkan bahwa kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
“Kami mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas, agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” jelasnya.
BMKG terus melakukan pemantauan secara berkala guna memberikan informasi terkini kepada masyarakat dan pihak terkait. Langkah mitigasi dini dinilai penting untuk menekan dampak yang bisa ditimbulkan, termasuk gangguan kualitas udara.