PEKANBARU - Medan perang melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kini bergeser menjadi pertarungan taktik melawan waktu dan cuaca.
Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera terpaksa mengubah strategi dengan memulai operasi pemadaman lebih awal untuk menjinakkan api sebelum angin kencang dan suhu ekstrem siang hari memperparah situasi.
Fokus utama pertempuran darat ini berada di wilayah Sokoi, Kabupaten Pelalawan.
Di lokasi ini, kombinasi antara vegetasi semak belukar yang melimpah dan karakteristik angin yang tidak menentu menjadi ujian terberat bagi para personel di lapangan.
Hingga Senin pagi (1/6/2026), dua tim Manggala Agni Daops Rengat dilaporkan sudah merangsek ke area gambut yang terus mengepulkan asap.
Langkah taktis ini diambil untuk mengunci pergerakan api sebelum matahari mencapai puncaknya.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengungkapkan, jendela waktu di pagi hari adalah momentum paling krusial bagi keselamatan personel dan efektivitas pemadaman.
"Di wilayah Sokoi, dua tim Daops Rengat sudah mulai beroperasi sebelum pukul 08.00 WIB. Kondisi pagi ini asap masih terlihat sehingga membutuhkan gerakan cepat sebelum siang agar lebih mudah dikendalikan," ucapnya, Senin (1/6/2026).
"Kami memanfaatkan waktu pagi untuk menekan perkembangan api sebelum cuaca menjadi lebih ekstrem," sambungnya.
Memadamkan api di atas lahan gambut Pelalawan memiliki tingkat kesulitan geopolitis dan alam yang tinggi.
Selain lapisan bawah tanah yang menyimpan bara, material di atas permukaan tanah didominasi bahan bakaran alami yang sangat kering.
Situasi kian rumit akibat faktor meteorologis lokal. Angin di kawasan Sokoi kerap berubah arah secara mendadak, bahkan menciptakan pusaran angin kecil yang mampu menerbangkan bara api ke area baru.
"Bahan bakaran di lokasi cukup melimpah dan mudah terbakar. Selain itu, saat siang hari angin sering bertiup kencang dan berubah arah atau berputar sehingga harus selalu diwaspadai," tuturnya.
"Kondisi ini membuat strategi pemadaman harus terus menyesuaikan perkembangan di lapangan," tambahnya.
Kabar baik datang dari wilayah Kandis, Kabupaten Siak. Berdasarkan pantauan visual dari udara, titik api di kawasan tersebut sudah berhasil diredam secara signifikan.
Saat ini, tim tengah melakukan tahap mopping up atau pendinginan total.
Proses ini bertujuan menyisir sisa-sisa bara tersembunyi di dalam tanah gambut agar tidak memicu kebakaran susulan.
"Untuk Kandis, progres pengendalian terlihat cukup baik dari hasil pemantauan udara. Namun tim tetap melakukan penyapuan dan pendinginan menyeluruh untuk memastikan tidak ada potensi kebakaran kembali," tegas Ferdian.
Sementara itu, eskalasi penanganan justru ditingkatkan di Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).
Guna mempercepat pemadaman, Balai Dalkarhut resmi mempertebal pertahanan dengan menyuntikkan satu tim tambahan dari Daops Dumai.