PEKANBARU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pulau Sumatera kian nyata menjelang puncak musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kota Pekanbaru mendeteksi lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai provinsi, dengan Provinsi Riau kembali menjadi salah satu wilayah penyumbang angka tertinggi.
Berdasarkan data pemantauan satelit terbaru pada Jumat (5/6/2026) sore, total titik panas di seluruh daratan Sumatera telah menyentuh angka 127 titik.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Jumat sore ada 127 titik," ujar Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Gita Dewi.
Dari total data yang dihimpun BMKG, Provinsi Sumatera Selatan saat ini memimpin dengan jumlah 31 titik panas.
Namun, situasi di Provinsi Riau tidak kalah mengkhawatirkan dengan temuan 25 titik panas yang tersebar fluktuatif di delapan kabupaten.
Sebaran 127 hotspot di wilayah Sumatera sore ini meliputi Sumatera Selatan 31 titik, Riau 25 titik, Bangka Belitung 18 titik, Sumatera Barat 16 titik, Jambi 11 titik, Sumatera Utara 11 titik, Bengkulu 6 titik, Kepulauan Riau 4 titik, Lampung 3 titik dan Aceh 1 titik.
Khusus di Bumi Lancang Kuning, grafik kenaikan suhu permukaan bumi mulai merata.
Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan tercatat menjadi wilayah paling rawan pada pembaruan data kali ini, masing-masing menyumbang 6 titik panas.
Sebaran 25 titik panas di tingkat Kabupaten/kota di Provinsi Riau meliputi Kabupaten Bengkalis 6 titik, Kabupaten Pelalawan 6 titik dan Kabupaten Rokan Hilir 4 titik.
Kemudian, Kabupaten Rokan Hulu 3 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 3 titik, Kabupaten Kampar 1 titik, Kabupaten Siak 1 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir 1 titik.
Meningkatnya grafik hotspot ini menjadi alarm keras bagi Satgas Karhutla daerah, manggala agni, dan masyarakat setempat untuk memperketat patroli udara maupun darat.
Cuaca kering yang diprediksi masih akan berlangsung beberapa hari ke depan berpotensi memperluas area lahan yang terbakar jika tidak segera ditangani secara dini.