PEKANBARU - Perjalanan menuju Pekanbaru untuk menjalani pengobatan yang diharapkan menjadi jalan menuju kesembuhan justru berubah menjadi tragedi yang menyisakan luka mendalam.
Kecelakaan ambulans di ruas Tol Pekanbaru-Dumai Kilometer 25 beberapa waktu lalu meninggalkan duka bagi keluarga korban dan kisah pilu dari mereka yang berhasil selamat.
Salah satu korban selamat, Endi, mengenang detik-detik nahas yang dialaminya saat ambulans yang ditumpanginya mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju Pekanbaru.
Endi, yang merupakan pasien penyakit jantung, mengatakan keberangkatannya ke Pekanbaru dilakukan untuk menjalani pengobatan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Seluruh persiapan perjalanan, kata dia, telah dilakukan oleh keluarga jauh sebelum keberangkatan.
Saat menerima kunjungan Bupati Rokan Hilir (Rohil) H Bistamam, Selasa (9/6/2026), Endi menceritakan bahwa keluarga telah mengurus seluruh kebutuhan administrasi, termasuk BPJS Kesehatan dan surat rujukan dari rumah sakit.
“Segala persiapan telah dilakukan oleh keluarga, termasuk pengurusan administrasi BPJS Kesehatan hingga mendapatkan surat rujukan dari RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi,” katanya.
Pada Minggu (7/6/2026) malam, Endi berangkat menuju Pekanbaru menggunakan ambulans. Di dalam kendaraan tersebut terdapat lima orang, yakni sopir ambulans, seorang perawat bernama Winda, Endi sebagai pasien, serta dua anaknya yang setia mendampingi, Ade Miesra dan Kasih Afrianti.
Sebelum memasuki ruas tol, ambulans sempat singgah ke Duri untuk mengisi bahan bakar solar. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Pekanbaru melalui Tol Pekanbaru-Dumai.
Menurut Endi, tidak ada firasat ataupun tanda-tanda yang mengarah pada musibah. Namun setibanya di Kilometer 25, kecelakaan tiba-tiba terjadi.
Karena kondisinya sedang sakit dan terbaring di dalam ambulans, Endi mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana tabrakan tersebut berlangsung. Ia hanya mengingat posisi terakhir sebelum benturan keras terjadi.
Saat itu, ia berbaring dengan tangan menjadi alas kepala. Dari tempatnya berbaring, ia sempat melihat salah satu anaknya duduk di dekatnya, sementara anak yang lain berada di bagian dekat kakinya.
Benturan keras yang terjadi membuat suasana berubah seketika. Saat tersadar, Endi mendapati ambulans telah ringsek parah dan sebagian badan kendaraan menghimpit tubuhnya.
Dalam kondisi lemah dan kesakitan, ia berusaha menyelamatkan diri dengan mendorong bagian kendaraan yang menekan tubuhnya. Namun upaya itu gagal karena tenaganya sudah tidak lagi cukup kuat.
“Saya coba dorong ke atas, tapi sudah tidak kuat lagi,” ujarnya.
Kesedihan semakin terasa ketika Endi mengingat percakapan terakhir putrinya, Kasih Afrianti, sebelum kecelakaan terjadi. Menurutnya, Kasih sempat menghubungi anaknya yang berada di rumah dan memberikan pesan sederhana namun penuh makna.
Dalam percakapan itu, Kasih berpesan agar anaknya rajin belajar karena akan menghadapi ujian sekolah.
Tak ada yang menyangka, pesan tersebut menjadi salah satu ucapan terakhir sebelum perjalanan yang mereka tempuh berakhir dengan tragedi.
Musibah itu juga mengundang perhatian Bupati Rohil H Bistamam. Sebagai bentuk kepedulian dan empati, ia mendatangi keluarga korban serta menyerahkan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Sebelum mengunjungi rumah duka di Jalan Siak, Kelurahan Bagan Timur, Bagansiapiapi, Bistamam terlebih dahulu melayat ke rumah keluarga almarhumah Winda di Jalan Lintas Kecamatan.
“Atas nama pribadi, keluarga, Pemkab Rohil kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah ini. Semoga almarhum dan almarhumah husnul khatimah, diampuni segala dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, serta ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini,” katanya.
Tragedi ambulans di Tol Pekanbaru-Dumai tersebut tidak hanya menyisakan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga meninggalkan kisah haru tentang perjuangan seorang pasien yang berangkat mencari kesembuhan, namun harus menghadapi ujian berat di tengah perjalanan.