PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat menyelimuti Kota Pekanbaru, Selasa (18/8/2026).
Kondisi tersebut sempat menyebabkan kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau mencapai kategori berbahaya, terutama di sekitar Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Warjono, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau Particulate Matter (PM) 2,5 sempat mencapai 276 mikrogram per meter kubik.
"Tadi pagi, terutama di bandara, terpantau asap masuk ke wilayah Kota Pekanbaru dan kualitas udaranya terpantau sampai berwarna hitam atau berbahaya. Kemungkinan ini adalah asap yang berasal dari Pelalawan karena di sana banyak titik api," kata Warjono, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Kabut asap terpantau sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WIB sebelum kemudian berangsur menghilang.
Perubahan kondisi tersebut dipengaruhi angin yang cukup kencang sehingga asap dengan cepat menyebar dan memudar.
Setelah itu, kualitas udara di Pekanbaru kembali berada pada kategori sedang dan kabut asap tidak lagi terdeteksi.
Selain Pekanbaru, kabut asap juga terpantau di Kabupaten Pelalawan dengan kondisi yang lebih pekat. Wilayah tersebut diduga menjadi sumber asap karena terdapat sejumlah titik panas dan aktivitas karhutla.
Warjono mengatakan, berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat 75 titik panas di Riau. Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 30 titik.
"Kebakaran masih terjadi di Kerumutan, daerahnya sulit dijangkau dan tanahnya gambut," ungkapnya.
Kondisi lahan gambut dan akses menuju lokasi kebakaran yang sulit menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla di wilayah tersebut.
BMKG juga memprediksi masih terdapat potensi hujan di sejumlah wilayah Riau, terutama bagian barat, dengan intensitas ringan hingga sedang.
Meski demikian, potensi karhutla masih perlu diwaspadai seiring meningkatnya suhu dan memasuki periode yang lebih kering.
"Suhu terpantau sudah naik menjadi 33 derajat Celsius. Kita imbau warga waspada karena kondisi panas dan juga menuju musim kemarau. Ketika sudah ada api, diharapkan agar segera melaporkan atau menangani sendiri karena itu akan sangat berpotensi untuk menyebar karena kondisi sangat mudah terbakar," ujarnya.
Sebagai salah satu upaya mengantisipasi meluasnya karhutla, BMKG akan memaksimalkan potensi pertumbuhan awan hujan yang terpantau di wilayah Riau.
Menurut Warjono, penyemaian garam akan dilakukan terhadap awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan, termasuk kawasan yang terdampak karhutla.
"Kita akan memaksimalkan ketika ada potensi awan hujan, akan dilakukan penyemaian garam agar terjadi panen hujan sehingga di tempat yang terjadi karhutla bisa padam," jelasnya.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran karhutla, terutama saat kondisi cuaca panas dan kering. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.