PEKANBARU - Sebaran titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera kembali meningkat pada Senin (5/10/2026) sore. Data BMKG menunjukkan terdapat 2.875 hotspot, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan yang mencapai 2.338 titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris mengatakan, hotspot juga terpantau di sejumlah provinsi lain, termasuk Riau.
Meski jumlahnya relatif kecil dibandingkan Sumatera Selatan, kemunculan hotspot di beberapa kabupaten/kota di Riau tetap menjadi perhatian karena menunjukkan potensi titik api tersebar di sejumlah wilayah.
"Total titik panas wilayah Sumatera pada Senin sore ada 2.875 titik," ujar Alfa.
Berdasarkan pemantauan BMKG, hotspot di Sumatera Selatan menjadi yang paling dominan dengan 2.338 titik. Setelah itu, Bangka Belitung tercatat 224 titik, Jambi 181 titik, dan Lampung 113 titik.
Sementara itu, Riau mencatat 8 hotspot. Titik panas tersebut tersebar di lima wilayah, yakni Kabupaten Siak satu titik, Pelalawan dua titik, Kuantan Singingi dua titik, Indragiri Hulu dua titik, serta Kota Dumai satu titik.
Sebaran ini menunjukkan bahwa hotspot di Riau tidak terkonsentrasi pada satu kawasan saja. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama apabila titik panas berada di kawasan dengan tutupan lahan mudah terbakar dan didukung cuaca panas serta kondisi lingkungan yang kering.
Dominasi Sumatera Selatan cukup mencolok. Dari total 2.875 hotspot yang terdeteksi di Sumatera, sekitar 81 persen berada di Sumatera Selatan.
Besarnya konsentrasi hotspot tersebut membuat Sumatera Selatan menjadi wilayah yang paling perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Selain Sumatera Selatan, hotspot juga terdeteksi di Aceh satu titik, Bengkulu dua titik, Sumatera Barat lima titik, Sumatera Utara tiga titik, serta Jambi 181 titik, Lampung 113 titik dan Bangka Belitung 224 titik.
Untuk Riau sendiri, hotspot terdeteksi di Siak, Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu dan Dumai.
Data hotspot tersebut merupakan indikator awal adanya anomali panas yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, diperlukan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah titik panas tersebut benar-benar berkaitan dengan karhutla.
Namun, penyebaran hotspot di sejumlah wilayah Riau tetap perlu diantisipasi. Respons cepat menjadi penting agar titik api yang terkonfirmasi tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan, terutama ketika kondisi cuaca dan vegetasi berpotensi mendukung cepatnya penjalaran api.