PEKANBARU – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Riau berakhir setelah berlangsung hampir dua bulan, dengan total 80 ton garam disemai untuk memicu hujan.
Meski hujan membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), luas lahan yang terbakar di provinsi ini telah mencapai 20.597,23 hektare.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau menunjukkan, Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan dampak karhutla terluas, yakni 8.569,25 hektare. Pelalawan menyusul dengan 6.710,21 hektare.
Kedua kabupaten tersebut menyumbang sekitar 74 persen dari total luas lahan terbakar di Riau.
Besarnya angka ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih menghadapi tantangan serius, meskipun titik api saat ini dilaporkan nihil.
Kalaksa BPBD Damkar Riau, Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Jim Gafur mengatakan, OMC berlangsung pada 30 Juli hingga 25 September 2026.
Kegiatan ini merupakan dukungan pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, BMKG, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Selama periode pelaksanaan OMC di Riau yakni mulai 30 Juli hingga 25 September, total garam yang telah disemai sebanyak 80 ton,” kata Jim.
Menurut dia, hujan yang turun di sejumlah wilayah setelah pelaksanaan OMC membantu proses pemadaman kebakaran, terutama di daerah yang sebelumnya mengalami kondisi kering.
“Setelah pelaksanaan OMC di beberapa wilayah yang sebelumnya kering turun hujan. Hal tersebut juga cukup membantu proses pemadaman karhutla,” ujarnya.
Selain Bengkalis dan Pelalawan, kebakaran juga meluas di sejumlah daerah lain. Indragiri Hulu mencatat 1.631,95 hektare lahan terbakar, disusul Indragiri Hilir 1.381,54 hektare dan Kota Dumai 651,09 hektare.
Sementara itu, luas lahan terbakar di Rokan Hilir mencapai 445,47 hektare, Siak 429,72 hektare, Kepulauan Meranti 307,91 hektare, Kampar 171,67 hektare, Kuantan Singingi 129,32 hektare, Pekanbaru 106,73 hektare, dan Rokan Hulu 62,37 hektare.
Secara keseluruhan, kebakaran telah meninggalkan dampak pada lebih dari 20 ribu hektare lahan.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan memadamkan api belum otomatis menghilangkan risiko kebakaran berulang, terutama ketika kondisi cuaca kembali kering.
BPBD Damkar Riau melaporkan tidak ada titik karhutla yang terpantau saat ini. Hujan juga disebut telah turun hampir merata di wilayah Riau. Namun, sejumlah daerah masih diselimuti kabut asap.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena nihilnya titik api tidak serta-merta berarti seluruh persoalan karhutla telah selesai.
Pemantauan wilayah rawan, penanganan sisa kebakaran, dan pengawasan aktivitas pembukaan lahan tetap diperlukan.
Petugas masih disiagakan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Kondisinya memang sudah nihil, tetapi kewaspadaan tetap harus dijaga. Kami mengimbau masyarakat jangan melakukan pembakaran lahan agar karhutla tidak kembali terjadi,” pungkasnya.