PEKANBARU – Sebanyak 280 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Sumatera berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Minggu sore (1/11/2026).
Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau tercatat memiliki sembilan titik panas yang tersebar di lima kabupaten/kota. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih perlu diwaspadai.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan Minggu sore, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 110 titik.
Selanjutnya, Jambi mencatat 77 titik panas, Bangka Belitung 73 titik, Lampung sembilan titik, Sumatera Utara dua titik, dan Riau sembilan titik.
Khusus di Provinsi Riau, sebaran hotspot meliputi Kabupaten Kampar satu titik, Rokan Hilir satu titik, Pelalawan satu titik, Indragiri Hulu tiga titik, serta Kota Dumai tiga titik.
Dengan demikian, Indragiri Hulu dan Kota Dumai menjadi wilayah di Riau dengan jumlah titik panas terbanyak dalam pemantauan tersebut.
Selain memantau sebaran titik panas, BMKG juga memperbarui informasi jarak pandang atau visibility di sejumlah wilayah Riau pada pukul 16.00 WIB.
Berdasarkan data tersebut, jarak pandang di Pekanbaru mencapai delapan kilometer, Rengat lima kilometer, Pelalawan sembilan kilometer, dan Tambang 10 kilometer.
BMKG juga mencatat kondisi cuaca hujan disertai petir di wilayah Rengat pada waktu pemantauan tersebut.
Masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran, mengingat kondisi cuaca dapat berubah sewaktu-waktu.
Informasi perkembangan hotspot dan kondisi cuaca perlu terus dipantau sebagai langkah antisipasi dini untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.