SIAK - Angga Setiawan masih mengingat saat dirinya dan tim terkepung api ketika melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Ia melihat rekan-rekannya mulai panik. Dalam keadaan itu, Angga meminta mereka tetap tenang, lalu bersama-sama berjalan perlahan menjauhi kobaran api hingga mencapai sebuah kanal.
Di tepi kanal, Angga menginstruksikan anggota tim untuk melompat ke air. Mereka kemudian berenang bersama, sampai terdengar suara perahu cepat yang mendekat. Rekan kerja mereka datang menjemput.
"Tidak lama kami berenang, kami mendengar suara speedboat. Ternyata rekan kerja saya sudah menjemput kami. Alhamdulillah, kami semua selamat dari kobaran api," kenangnya.
Peristiwa tersebut menjadi pengalaman paling berat bagi Angga selama 12 tahun bekerja sebagai petugas pemadam karhutla. Namun, di luar pengalaman menghadapi api, ada hal lain yang juga tidak mudah dijalaninya: meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu.
Angga Setiawan kini berusia 32 tahun dan tinggal di Perawang yang merupakan Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Regu Pemadam Kebakaran PT Arara Abadi nit usaha APP Group. Ia memiliki seorang istri, Dea Tri Oktari, yang berusia 26 tahun, serta seorang anak. Ketika harus berangkat bertugas, kerinduan kepada keduanya menjadi bagian yang harus ia hadapi.
"Berat, terlebih lagi kalau anak sedang demam dan video call menyuruh saya pulang," ujarnya. Pada saat seperti itu, Angga belum tentu bisa segera memenuhi permintaan anaknya karena masih menjalankan tugas pemadaman.
Dukungan Dea sangat berarti dalam keadaan tersebut. Istrinya mendampingi anak mereka di rumah, termasuk ketika sedang sakit dan menginginkan kehadiran ayahnya. Dea pula yang mencoba menenangkan anak ketika permintaan untuk pulang disampaikan kepada Angga.
"Untung saja istri saya sangat mendukung. Istri saya mencoba menenangkan anak ketika anak meminta saya pulang," kata Angga.
Ketika lelah dan rindu keluarga datang, Angga mengingat tanggung jawabnya sebagai seorang ayah untuk bekerja. Ia juga memandang tugas pemadaman sebagai pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat. Kedua hal itulah yang membuatnya tetap bertahan menjalani pekerjaan tersebut.
"Ditambah lagi, pekerjaan ini sangat mulia, menyelamatkan orang banyak supaya tidak terjadi kabut asap," tuturnya. Bagi Angga, tanggung jawab kepada keluarga berjalan bersama tugas yang harus diselesaikannya di lapangan.
Salah satu kenangan paling mengharukan justru datang pada awal kehidupan rumah tangganya. Saat usia pernikahan mereka baru empat bulan, Angga dan Dea sudah menyiapkan baju untuk Lebaran pertama sebagai suami istri. Pada bulan puasa itu, keduanya menjahit baju untuk menyambut momen yang mereka nantikan.
Namun, dua hari menjelang Lebaran, Angga mendapat tugas memadamkan api. Ia harus meninggalkan rencana merayakan hari raya bersama istrinya. Lebaran pertama sebagai pasangan suami istri pun tidak berlangsung seperti yang mereka harapkan.
"Saya melewatkan momen yang saya tunggu bersama istri saya," ungkapnya. "Baju yang sudah kami jahit itu dapat kami pakai bersama pada Lebaran kelima."
Kini, setelah memiliki anak, Angga semakin merindukan waktu bersama keluarga ketika penugasan berlangsung berminggu-minggu. Anak dan istri menjadi orang yang paling ingin ditemuinya saat kembali ke rumah. Setelah pulang, ia biasanya meminta libur untuk mengajak mereka berjalan-jalan.
Bagi Angga, berjalan-jalan bersama anak dan istri menjadi kesempatan untuk melepas rindu setelah lama berjauhan. Waktu libur itu ia gunakan untuk kembali menemani keluarganya. "Itulah bentuk melepas kerinduan saya," ujarnya. (rls)