PEKANBARU - Minimnya penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah ruas strategis Kota Pekanbaru kian memicu kekhawatiran warga.
Kondisi jalan yang gelap, ditambah cahaya lampu tertutup rimbunnya pepohonan, dinilai meningkatkan risiko kriminalitas dan mengancam keselamatan pengguna jalan, terutama pada malam hari.
Sejumlah ruas yang menjadi akses penghubung antarwilayah dan jalur alternatif menuju jalan nasional masih ditemukan dalam kondisi minim penerangan.
Di antaranya Jalan Parit Indah, Harapan Raya Ujung, Jalan Pesantren hingga ruas Jalan Lintas Timur.
Padahal, jalur-jalur tersebut merupakan lintasan utama kendaraan roda dua dan roda empat untuk menunjang mobilitas harian masyarakat Pekanbaru, termasuk sebagai akses pemendek jarak menuju kawasan lain di Riau.
Salah satu lokasi yang disorot warga adalah Jalan Pesantren yang tembus ke Jalan Parit Indah.
Pada satu bentangan sepanjang kurang lebih satu kilometer, penerangan jalan nyaris tidak tersedia.
Kondisi diperparah dengan vegetasi liar yang menutup pandangan dan belokan tajam tanpa lampu, khususnya di arah menuju SPBU setempat.
“Kalau malam hari memang harus ekstra waspada. Jalannya sepi dan gelap,” ujar Andi, warga yang rutin melintasi jalur tersebut untuk menuju Jalan Sudirman.
Andi mengungkapkan, kawasan itu pernah menjadi lokasi aksi kejahatan dengan modus membahayakan pengendara.
“Modusnya lempar telur ke kaca helm. Pelaku membuntuti korban, lalu saat kondisi sepi telur dilempar supaya korban berhenti karena pandangan terganggu,” katanya.
Menurut Andi, aksi tersebut dimaksudkan agar pelaku memiliki kesempatan melancarkan kejahatan.
“Dari cerita yang saya dengar, korbannya berhasil menyelamatkan diri dengan lari ke tempat ramai,” tambahnya.
Kondisi serupa juga terlihat di Jalan Harapan Raya Ujung. Di ruas ini, pengendara hanya mengandalkan lampu dari rumah warga yang berada di tepi jalan.
Jika tidak ada rumah dengan lampu terpasang, jalan dipastikan gelap dan minim jarak pandang.
Sementara di Jalan Lintas Timur, tepatnya arah menuju kawasan pertokoan dan Pasar Tangor, sejumlah titik masih gelap akibat ketiadaan PJU.
Padahal ruas ini kerap digunakan sebagai jalur lintas alternatif untuk memperpendek jarak perjalanan menuju Kerinci.
Pada malam hari, suasana mencekam kerap dirasakan pengendara sepeda motor. Pepohonan tinggi di sisi jalan membuat kawasan semakin sepi dan rawan.
Di Jalan Parit Indah, minimnya penerangan juga menyisakan trauma tersendiri bagi warga.
Rizal, salah seorang warga setempat, menyebut wilayah itu pernah menjadi lokasi aksi kekerasan oleh kelompok geng motor.
“Kalau tidak salah kejadiannya tahun 2023. Mereka bergerombol pakai sepeda motor, menghentikan pengendara lalu melakukan penganiayaan,” ungkap Rizal.
Ia mengaku kini lebih berhati-hati dalam memilih waktu melintas di kawasan tersebut.
“Kalau terlalu malam memang riskan. Setelah melewati kantor DLHK ke arah atas, penerangannya masih minim,” ujarnya.
Kondisi ini mendorong warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah kota, khususnya dalam evaluasi dan penataan PJU di jalur-jalur vital.
Selain pemasangan lampu baru, pemangkasan pepohonan yang menutup cahaya juga dinilai mendesak demi menjamin keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.
Minimnya penerangan bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga berkaitan langsung dengan upaya pencegahan tindak kriminal dan keselamatan berlalu lintas di Kota Pekanbaru.