PEKANBARU – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru mulai melatih warga binaan mengolah sampah menjadi pupuk organik. Program ini digelar sebagai upaya menciptakan lapas yang lebih ramah lingkungan sekaligus memberikan keterampilan yang bisa dimanfaatkan setelah bebas nanti.
Kegiatan pelatihan berlangsung di area bimbingan kerja Lapas Pekanbaru, Kamis (12/2/2026). Program tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru dalam pengelolaan sampah domestik di lingkungan lapas.
Kepala Lapas Pekanbaru, Yuniarto, menjelaskan pelatihan ini tak sekadar untuk menjaga kebersihan, tetapi juga membekali warga binaan dengan kemampuan produktif.
"Kami ingin mereka punya keterampilan nyata. Pengolahan sampah jadi pupuk organik ini bukan hanya membantu mengurangi limbah di dalam lapas, tapi juga bisa jadi bekal saat kembali ke masyarakat," ujar Yuniarto.
Ia menambahkan, pupuk organik yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) pertanian yang sudah berjalan di dalam lapas.
Pelatihan ini berada di bawah pengawasan Seksi Kegiatan Kerja (Giatja). Para peserta terlihat aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari memilah sampah organik hingga proses pencampuran bahan dan aktivator untuk pengomposan.
Salah satu warga binaan, Yogi, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasannya. Ia baru mengetahui bahwa sampah dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi.
"Selama ini saya kira sampah cuma dibuang saja. Ternyata bisa jadi pupuk yang bermanfaat dan bahkan punya nilai jual. Ilmunya sederhana, tapi berguna. Nanti kalau sudah bebas, saya ingin coba praktikkan di rumah," katanya.
Melalui program ini, Lapas Pekanbaru berharap volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa ditekan, sekaligus mendukung terciptanya ekosistem pertanian mandiri di dalam lingkungan lapas.