PEKANBARU – Kota Pekanbaru mencatatkan angka tertinggi kasus AIDS di Provinsi Riau. Hingga akhir Desember 2025, jumlah kasus di ibu kota provinsi tersebut mencapai 2.746 kasus, jauh melampaui daerah lain.
Data menunjukkan kesenjangan yang cukup besar dibandingkan wilayah lain seperti Indragiri Hilir dengan 308 kasus dan Dumai sebanyak 300 kasus. Sementara itu, jumlah kasus terendah tercatat di Indragiri Hulu dengan 34 kasus serta Kampar sebanyak 49 kasus.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Riau, Wildan Asfan Hasibuan, menjelaskan tingginya angka kasus di Pekanbaru dipengaruhi oleh mobilitas penduduk yang tinggi serta akses layanan kesehatan yang lebih baik.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat deteksi kasus HIV/AIDS di Pekanbaru menjadi lebih optimal dibandingkan daerah lain.
Meski demikian, Wildan menekankan pentingnya peran lingkungan dalam mendukung orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) agar tetap dapat menjalani kehidupan secara normal.
“ODHIV bukan untuk dijauhi. Mereka bisa hidup normal dan produktif selama menjalani pengobatan dengan baik. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting,” ujarnya.
Berdasarkan data KPA Riau, mayoritas penderita didominasi oleh laki-laki dengan persentase mencapai 88 persen, terutama dari kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun.
Wildan menambahkan, perilaku berisiko masih menjadi tantangan utama dalam menekan angka penularan, khususnya di wilayah perkotaan. Oleh sebab itu, edukasi kepada masyarakat dinilai harus terus diperkuat.
“Faktor perilaku masih menjadi tantangan terbesar. Karena itu, edukasi harus terus diperkuat, terutama bagi kelompok berisiko,” jelasnya dikutip dari MCRiau.
Selain edukasi, pemerintah daerah melalui KPA Riau juga terus memastikan ketersediaan layanan pengobatan bagi 4.480 penderita HIV/AIDS di seluruh wilayah Riau. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas hidup pasien sekaligus mencegah kondisi berkembang ke tahap yang lebih parah.
“Yang paling penting adalah pencegahan dan deteksi dini. Jangan takut untuk tes HIV. Semakin cepat diketahui, pengobatan bisa segera dilakukan dan kualitas hidup tetap terjaga,” tegas Wildan.