PEKANBARU — Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali menjadi perhatian. Kota ini masuk dalam daftar 15 kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia berdasarkan data real time yang dilansir laman resmi IQAir, Jumat (4/9/2026).
Dalam daftar tersebut, Pekanbaru berada di posisi ke-14 kota terpolusi di dunia. Posisi itu menunjukkan kondisi udara di ibu kota Provinsi Riau tersebut sedang berada dalam situasi yang perlu diwaspadai.
Penelusuran media pada pukul 11.21 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM10 di Pekanbaru mencapai 128 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Pada waktu tersebut, kualitas udara Pekanbaru berada dalam kategori tidak sehat.
Pekanbaru berada satu tingkat di bawah Miri, Sarawak, Malaysia, yang menempati posisi ke-13 dalam daftar tersebut.
Kondisi udara yang memburuk ini tidak terlepas dari dampak kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) yang terjadi di sejumlah wilayah. Wakil Walikota Pekanbaru, Markarius Anwar, menyebut posisi geografis dan arah angin membuat Pekanbaru turut menerima dampak asap dari kebakaran di wilayah lain.
"Kita menjadi kota yang menerima dampak kebakaran lahan," ujarnya.
Markarius mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi kualitas udara yang memburuk. Terlebih, Pekanbaru menjadi salah satu daerah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, titik-titik Karlahut tidak hanya berada di sekitar Pekanbaru, tetapi juga terjadi di wilayah lain di Riau maupun luar provinsi.
"Bukan hanya di sekitar Riau ya, tapi juga di luar Riau. Terutama dari Jambi dan Palembang, arah angin ke kita sehingga kita kena dampak," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat kualitas udara Pekanbaru dapat berubah dari waktu ke waktu, bergantung pada aktivitas kebakaran dan arah pergerakan angin.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan, khususnya ketika konsentrasi polutan mengalami peningkatan. Kondisi udara yang masuk kategori tidak sehat juga menjadi pengingat agar masyarakat lebih waspada terhadap dampak paparan asap karhutla.