PELALAWAN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Pelalawan, Riau. Sepanjang Januari hingga September 2026, sedikitnya 2.750,94 hektar lahan hangus terbakar.
Data tersebut dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan. Ribuan hektar lahan yang terbakar tersebar di sejumlah kecamatan, baik berupa lahan gambut maupun mineral.
Kepala BPBD Pelalawan, Zulfan M.Si, mengatakan Kecamatan Pangkalan Kerinci dan Kerumutan menjadi wilayah dengan luasan Karhutla terbesar
"Terbanyak di Kecamatan Pangkalan Kerinci dan Kerumutan. Karhutla cukup parah sepanjang Agustus lalu," ujar Kepala BPBD Pelalawan, Zulfan M.Si kepada tribunpekanbaru.com, Senin (21/9/2026).
Menurut Zulfan, lahan yang terbakar terdiri dari semak belukar, kawasan hutan hingga kebun kelapa sawit milik masyarakat. Kebakaran juga terjadi di bekas areal konsesi perusahaan.
Sebagian besar lahan yang hangus merupakan kawasan gambut dengan kedalaman mencapai dua hingga empat meter. Kondisi ini membuat penanganan Karhutla menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika cuaca kering berlangsung.
Titik api bermunculan saat musim kemarau kering melanda Pelalawan. Kondisi tersebut diperparah minimnya potensi hujan sehingga hotspot dan firespot terus bermunculan dan menyebar.
"Dua pekan terakhir hotspot dan firespot sudah jauh berkurang. Tapi peluang hujan masih tetap rendah," papar Zulfan.
Berdasarkan rincian BPBD Pelalawan, Kecamatan Pangkalan Kerinci menjadi wilayah dengan lahan terbakar terluas, yakni mencapai 987,4 hektar.
Posisi kedua ditempati Kecamatan Kerumutan dengan luas 981,6 hektar. Selanjutnya Kecamatan Kuala Kampar dengan luas lahan terbakar mencapai 587,14 hektar.
Kemudian, Kecamatan Teluk Meranti tercatat mengalami kebakaran lahan seluas 191 hektar. Sementara itu, wilayah lainnya relatif lebih kecil, seperti Kecamatan Pelalawan yang tercatat hanya 4 hektar.
Adapun sejumlah kecamatan lainnya masih tercatat nihil kasus Karhutla berdasarkan data tersebut.
Meski titik api dalam dua pekan terakhir mengalami penurunan, kondisi cuaca masih menjadi perhatian karena peluang hujan disebut tetap rendah.
"Pengukuran dilakukan tim setelah api Karhutla berhasil dipadamkan. Ini data per 16 September," pungkas Zulfan.