PEKANBARU - Provinsi Riau kini tengah berpacu dengan waktu untuk memangkas angka stunting yang saat ini masih berada di angka 20,1 persen berdasarkan data terbaru SSGI 2024. Pemerintah Provinsi Riau telah mematok target ambisius, yakni menurunkan angka tersebut menjadi 17 persen pada tahun 2026 mendatang.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, menegaskan bahwa target ini bukan sekadar angka, melainkan mandat yang tertuang dalam RPJMD 2025–2029. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari perbaikan gizi, layanan kesehatan, hingga akses sanitasi yang layak bagi masyarakat.
Namun, di balik upaya teknis tersebut, muncul tantangan sosial yang cukup pelik. Guru Besar Gizi Poltekkes Kemenkes Riau, Aslis Wirda Hayati, mengungkapkan adanya fenomena stigma negatif yang menghambat program ini. Banyak orang tua yang enggan membawa anaknya ke posyandu setelah sang anak dilabeli stunting oleh petugas atau kader kesehatan.
Dikutip dari MCRiau, stigma ini menciptakan beban psikologis bagi keluarga. Menurut Aslis, pendekatan yang lebih manusiawi dan edukatif sangat diperlukan agar orang tua tidak merasa terdiskriminasi atau rendah diri.
Penanganan stunting di Riau ke depannya diharapkan tidak hanya fokus pada intervensi fisik, tetapi juga merangkul sisi kemanusiaan agar masyarakat lebih terbuka dan aktif dalam program kesehatan ini.