PEKANBARU - Keterbatasan jumlah guru masih menjadi persoalan serius di sejumlah sekolah alternatif yang menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kondisi inilah yang kini dihadapi Sekolah Alam CEFA (Care Education For All) di Kabupaten Kampar, Riau, yang hanya memiliki lima tenaga pendidik untuk mendampingi sekitar 50 siswa dari jenjang Kelompok Bermain hingga SMA.
Melihat tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) mengambil peran langsung dengan meluncurkan program Peningkatan Tenaga Pendidik untuk Sekolah Alam CEFA.
Program ini resmi dimulai pada Senin, 19 Januari 2026, ditandai dengan penyerahan relawan pendidik sekaligus perancangan Pojok Baca sebagai pusat literasi siswa.
Sekolah Alam CEFA yang berdiri sejak 2019 di Jalan Garuda Sakti KM 6, Kampar, dikenal sebagai sekolah alternatif bagi anak-anak dhuafa.
Selain fokus pada pembentukan karakter dan akhlak, sekolah ini juga menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Namun, keterbatasan sumber daya manusia membuat proses pembelajaran belum berjalan optimal.
“Kami sangat kekurangan tenaga pengajar, terutama figur laki-laki yang bisa menjadi teladan kepemimpinan bagi siswa laki-laki yang mulai beranjak dewasa,” ujar Kepala Unit SD Sekolah Alam CEFA, Tri Setyaningsih.
Menurutnya, kehadiran relawan dari kalangan mahasiswa menjadi angin segar bagi keberlangsungan proses belajar mengajar.
“Bantuan ini bukan hanya soal jumlah guru, tetapi juga semangat baru bagi anak-anak,” katanya.
Program Peningkatan Tenaga Pendidik ini dirancang untuk menjamin keberlanjutan pendidikan di Sekolah Alam CEFA melalui dua fokus utama, yakni penambahan tenaga pengajar berbasis relawan dan penyediaan sumber belajar yang memadai.
Langkah tersebut sekaligus menjadi kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Selama dua minggu ke depan, para relawan akan terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar, termasuk pendampingan Project Based Learning (PjBL).
Selain itu, tim mahasiswa UMRI juga membangun Pojok Baca di sudut kelas guna mengatasi minimnya akses buku pelajaran dan bacaan pengetahuan umum.
“Kami ingin memastikan anak-anak di Sekolah Alam CEFA memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas, meskipun dengan segala keterbatasan,” kata dosen pembimbing program, Raja Widya Novchi, SIKom MSocSc.
Ia menambahkan, program ini juga menjadi sarana pembelajaran sosial bagi mahasiswa agar lebih peka terhadap persoalan pendidikan di lapangan.
“Ini adalah kolaborasi yang saling menguatkan antara kampus dan masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya mengandalkan relawan, tim mahasiswa UMRI angkatan 2023 juga menggalakkan kampanye donasi untuk pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan umum.
Dukungan dari masyarakat diharapkan dapat memperkuat dampak jangka panjang program tersebut.
Melalui kolaborasi antara akademisi, relawan, dan pihak sekolah, Sekolah Alam CEFA optimistis dapat meningkatkan prestasi akademik dan non-akademik siswa.(rilis)