www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
28 Nama Lolos Seleksi Administrasi Bos Baru BRKS, Ini Daftar Lengkapnya
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Dari Bengkel Elektronik ke Ladang Madu
Bambang Sugeng Kini Sukses Bangun Kerajaan Lebah di Tengah Hutan Akasia PT Arara Abadi-APP Group
Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:29:24 WIB
Peternak Madu Akasia, Bambang Sugeng (kiri) dan Forest Protection Head Minas PT Arara Abadi-APP Group, Aep Mahmudin (kanan).(foto: barkah/halloriau.com)
Peternak Madu Akasia, Bambang Sugeng (kiri) dan Forest Protection Head Minas PT Arara Abadi-APP Group, Aep Mahmudin (kanan).(foto: barkah/halloriau.com)

SIAK - Di tengah hamparan hutan tanaman industri (HTI) akasia di Kabupaten Siak, dengungan ribuan lebah terdengar nyaris tanpa henti.

Bagi sebagian orang, suara itu mungkin biasa. Namun bagi Bambang Sugeng, dengungan tersebut menjadi simbol kebangkitan hidup setelah usahanya di bidang servis elektronik runtuh akibat pandemi.

Kini, pria asal Perawang itu dikenal sebagai peternak lebah madu dengan merek Madu Legit Nusantara, sekaligus menjadi salah satu motor penggerak pengembangan budidaya lebah Apis mellifera binaan PT Arara Abadi-APP Group.

Perjalanan Bambang bukan sekadar kisah sukses beralih profesi. Ia membuktikan, hutan yang dikelola secara berkelanjutan mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat tanpa harus merusak lingkungan.

Berawal dari Kelangkaan Madu Saat Pandemi

Pandemi menjadi titik balik kehidupan Bambang. Saat itu, permintaan madu meningkat drastis karena dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh. Namun stok madu sialang di pasaran sangat terbatas.

"Dulu saya masih servis elektronik di Perawang. Saat pandemi usaha bangkrut karena aktivitas masyarakat dibatasi," kenang Bambang berbincang dengan halloriau.com, Rabu (17/7/2026).

"Saya sempat mencoba usaha kolam ikan, tetapi hasilnya juga tidak maksimal," sambungnya.

Melihat tingginya kebutuhan madu, ia mulai mencari sumber pasokan hingga mendapat informasi mengenai peternakan lebah di Kecamatan Danau Lamo, Jambi.

"Saya studi banding ke sana. Saya lihat sekitar 150 kotak lebah bisa menghasilkan hampir satu ton madu setiap bulan. Dari situ saya yakin usaha ini punya masa depan," ujarnya.

Berani Mengambil Risiko Puluhan Juta Rupiah

Awalnya Bambang hanya dipercaya menjaga koloni lebah milik temannya dengan upah Rp2 juta setiap bulan.

Namun kesempatan lebih besar datang ketika sejumlah peternak berhenti berusaha sehingga ratusan kotak lebah terbengkalai.

Ia kemudian mengakuisisi sekitar 280 kotak lebah senilai Rp80 juta.

Kondisi saat itu jauh dari ideal. Sebagian besar kotak rusak dan koloni lebah melemah akibat lama tidak dirawat.

"Empat bulan pertama hasilnya hanya sekitar 100 kilogram madu. Setelah koloni pulih, produksinya naik menjadi 200 kilogram, lalu 350 kilogram. Saat itu rata-rata setiap kotak sudah terisi enam sampai tujuh sisir," kata Bambang.

Hutan Akasia Menjadi "Ladang" bagi Ribuan Lebah

Budidaya yang dijalankan Bambang menggunakan lebah jenis Apis mellifera.

Setiap kotak berisi sekitar sepuluh sisir sarang dengan populasi mencapai lebih dari 5.000 ekor lebah.

Dari pintu kecil di setiap kotak, ribuan lebah pekerja setiap hari terbang hingga radius sekitar tiga kilometer mencari nektar. Pohon akasia menjadi sumber makanan utama.

Menurut Bambang, keberadaan tanaman akasia menentukan keberhasilan usaha budidaya lebah.

"Lebah ini sangat bergantung pada nektar akasia. Kalau tidak ada nektar, perkembangan koloninya tidak akan maksimal," jelasnya.

Ia menambahkan, setiap kali tanaman akasia dipanen perusahaan, para peternak akan berpindah mengikuti tanaman akasia muda yang sudah memasuki usia produktif berbunga.

Dukungan Perusahaan Membuka Jalan

Pada awal merintis, koloni lebah milik Bambang ditempatkan di lahan masyarakat.

Setelah melihat perkembangan usaha tersebut, PT Arara Abadi memberikan akses bagi peternak untuk memanfaatkan kawasan tertentu yang tidak mengganggu operasional perusahaan.

Melalui nota kesepahaman (MoU), para peternak juga bergabung sebagai Masyarakat Peduli Api (MPA).

Sebagai bagian dari komitmen itu, mereka berkewajiban memantau kondisi lapangan setiap hari.

"Kami ikut melaporkan apabila ada indikasi kebakaran maupun aktivitas yang mencurigakan di sekitar areal," ujar Bambang.

Kolaborasi tersebut memberikan manfaat ganda. Selain memperoleh lokasi yang kaya sumber nektar, peternak turut membantu menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran.

Ribuan Kotak Lebah Menghidupi Puluhan Keluarga

Kini usaha budidaya lebah berkembang pesat. Sebanyak 22 kelompok peternak telah bergabung dalam program tersebut dengan jumlah mencapai sekitar 7.000 kotak lebah hingga Juni 2026.

Total produksi madu mencapai sekitar 10,48 ton setiap bulan. Masing-masing peternak telah memiliki jaringan pemasaran sendiri.

Meski demikian, Bambang mengakui sebagian hasil panen masih dijual kepada tengkulak sehingga nilai jual belum maksimal.

"Kalau dijual sendiri tentu harganya lebih baik dibanding lewat pengepul," katanya.

Di peternakannya sendiri, sekitar 300 kotak lebah mampu menghasilkan rata-rata 500 kilogram madu setiap bulan.

Usaha tersebut juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Tidak Hanya Madu, Tetapi Juga Mengembangbiakkan Koloni

Selain memanen madu, Bambang juga mengembangkan koloni baru. Selama dua tahun terakhir ia berhasil melakukan pemecahan koloni hingga mencapai sekitar 120 kotak tambahan.

Menurutnya, pertumbuhan koloni sangat dipengaruhi ketersediaan nektar.

"Dengan pakan yang cukup, 200 kotak lebah bisa berkembang menjadi sekitar 320 kotak," ujarnya.

Musuh Terbesar Justru Burung Pemakan Lebah

Kesuksesan beternak lebah ternyata tidak lepas dari berbagai tantangan.

Hama terbesar bukanlah penyakit, melainkan burung pemakan lebah yang oleh warga dikenal sebagai burung "krik-krik".

Burung tersebut kerap memangsa lebah pekerja ketika sedang mencari nektar.

"Kalau burung datang, dalam sekali muncul bisa memangsa puluhan lebah. Akibatnya jumlah pencari makan berkurang," kata Bambang.

Ancaman lain berasal dari beruang yang merusak kotak lebah demi mencari madu, serta beruk yang kerap menarik dan membongkar sarang.

Selain itu terdapat gangguan cicak, jamur, dan kutu yang harus dikendalikan menggunakan strip anti-kutu maupun cairan khusus.

Program Desa Makmur Peduli Alam

Forest Protection Head Minas PT Arara Abadi-APP Group, Aep Mahmudin mengatakan, pengembangan budidaya lebah menjadi bagian dari program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) yang sebelumnya dikenal sebagai Desa Makmur Peduli Api.

Menurutnya, perusahaan membuka kesempatan bagi kelompok peternak dari Perawang, Pekanbaru hingga berbagai daerah di Riau untuk memanfaatkan potensi hasil hutan bukan kayu.

"Semua kelompok yang bergabung tetap mengikuti aturan perusahaan, terutama komitmen untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mereka juga menjadi mitra yang membantu memberikan informasi apabila ada potensi gangguan keamanan kawasan," ujar Aep.

Ia menjelaskan, peternak dapat memanfaatkan kawasan tanaman akasia berusia lebih dari satu tahun sehingga tidak mengganggu operasional perusahaan.

Ketika akasia memasuki masa panen, lokasi budidaya akan dipindahkan mengikuti tanaman yang lebih muda dan sedang menghasilkan nektar.

Bagi perusahaan, pola tersebut menjadi contoh bahwa pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dapat berjalan berdampingan dengan upaya menjaga kelestarian kawasan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Editor: Barkah


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Pansel umumkan 28 calon pimpinan BRKS yang lolos.(ilustrasi/int)28 Nama Lolos Seleksi Administrasi Bos Baru BRKS, Ini Daftar Lengkapnya
Pemutihan pajak di Riau selama bulan Agustus 2026.(ilustrasi/int)Pemutihan Pajak Kendaraan Riau Dimulai 1 Agustus 2026, Tunggakan 5 Tahun Bisa Bayar 2 Tahun
Malaria hantui warga Sinaboi, Rohil.(foto: afrizal/halloriau.com)Malaria Masih Hantui Sinaboi, Warga Rohil Minta Pemerintah Lebih Serius
Syafrudin Iput serap aspirasi warga Rohil.(foto: afrizal/halloriau.com)Pokir Rp11 Miliar Jadi Harapan, Syafrudin Iput Bawa Aspirasi Warga Bangko ke APBD 2027
Ilustrasi.Pajak Alat Berat Jadi Penyumbang PAD Terendah di Riau, Baru Capai 23,6 Persen
  Koalisi Keberlanjutan Media resmi berdiri.(foto: istimewa)20 Organisasi dan Institusi Bersatu, Koalisi Baru Ini Bidik Masa Depan Jurnalisme Indonesia
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto.(foto: int)Gaji ke-13 ASN Rohil-Inhu Beres, Pemprov Riau Masih Kawal Hak Pegawai di Daerah
Jajaran top manajemen PT TAM usai Toyota GAZOO Racing Press Conference di booth Toyota.(foto: istimewa)Toyota GR Makin Diminati, Varian Sporty Sumbang Lebih dari 60% Penjualan
Sebaran titik panas di Sumatera dan Riau sore ini.(infografis/halloriau.com)51 Hotspot Terdeteksi di Sumatera, Riau Sumbang 10 Titik Panas Sore ini
Perjuangan RS Bhayangkara Polda Riau dampingi dua anak osteogenesis imperfecta (foto/ist)3,5 Tahun Dampingi Dua Anak 'Tulang Kaca', RS Bhayangkara Polda Riau Beri Penanganan Komprehensif Tanpa Biaya
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved