Oleh: Riki Ariyanto
PEKANBARU – Masalah tidak selalu berarti buruk. Terkadang kesulitan malah melahirkan peluang baru yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Setidaknya itu yang dirasakan Firman Edi, pemilik usaha pengasapan ikan salai patin saat memulai cerita. Awalnya tak pernah terpikirkan baginya untuk membuka usaha ikan salai dari ikan patin, sebab orang-orang lebih familiar dengan produk lokal ikan salai baung dan lais.
Semua berubah saat dirinya diterpa dilema. Sekitar tahun 2007, usaha miliknya yang bernama Putra Niaga yang berlokasi di Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Koto Kampar terancam rugi besar.
Saat itu Edi bisa menjual ikan patin segar 50 sampai 70 kilogram sehari. Harga waktu itu masih Rp7 ribu per kilogram. Tetapi akibat pasokan berlebih atau over suplay, harga patin di pasaran pun anjlok.
“Pokoknya kalau kami paksa jual patin waktu itu, dipastikan rugi,” kata alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bangkinang itu mengenang, Minggu (9/11/2025).
Beruntungnya, Edi bertemu pihak Dinas Perikanan Kabupaten Kampar yang menyarankan agar ikan pengolahan ikan salai. Edi tak langsung mengiyakan. Sebagai pengusaha, ia harus menghitung untung rugi.
“Setelah semua saya hitung mulai dari bahan baku, kayu bakar, dan biaya lainnya ternyata memang ada margin untung. Dari situlah modal saya putar dengan nekat membuka usaha pengasapan ikan salai. Alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang,” sebutnya.
(Kampung Patin menjadi sentra produksi ikan salai patin yang sudah dipasarkan ke berbagai provinsi di Pulau Sumatera/foto-Khamidi untuk halloriau)
Kini Edi bisa memproduksi 1,5 sampai 2 ton ikan salai per hari, dengan harga Rp70 ribu per Kg. Nilai tambah produk ini tentu saja sangat menjanjikan, karena harga patin segar cuma Rp16.000 per Kg. Ini pula yang membuat banyak konsumen memilih salai patin ketimbang salai baung yang harganya bisa tembus Rp300 ribu per Kg. Salai patin Putra Niaga tidak hanya dipasarkan di Riau, namun sudah merambah ke Aceh, Medan (Sumatera Utara), Batam (Kepulauan Riau), dan Padang (Sumatera Barat).
Tak hanya berhenti di sana. Perlahan namun pasti, usaha Edi mulai berkembang, hingga ia memutuskan untuk membudidayakan ikan patin sendiri. Usahanya ini juga membuka lapangan kerja baru, saat ini sekitar 20 orang berkerja di rumah produksi ikan salai miliknya.
Desa Koto Mesjid ini juga punya julukan Kampung Patin. Julukan itu disematkan desa ini punya semboyan “Tiada Rumah Tanpa Kolam”.
Mereka yang tinggal di sini dulunya warga yang terdampak dari pembangunan Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang tahun 1989-1992. Kampung asli mereka tenggelam. Setidaknya ada 10 desa yang direlokasi.
Sebagian warga kemudian bermukim di kampung yang kini dikenal sebagai Desa Koto Majid. Di tempat yang baru, warga berinisiatif untuk memanfaatkan sumber daya air yang melimpah. Mereka kemudian membuat kolam di rumah masing-masing dan membudidayakan ikan, seperti nila, mas, patin dan jenis ikan lainnya. Seiring berjalannya waktu, usaha ikan patin lebih dilihat punya prospek yang lebih baik, sehingga terus berkembang hingga hari ini.
Dinas Perikanan Kampar mencatat total luas kolam patin yang ada di desa sekitar 150 hektare. Dengan potensi panen patin segar 12 sampai 13 ton per hari. Dengan 80 persen ikan tersebut diolah menjadi berbagai produk, selebihnya baru dijual segar. Maka tak heran, Desa Koto Masjid menjadi sentra perikanan ikan tawar patin terbesar di Pulau Sumatera.
Salah satu tokoh masyarakat yang turut menggerakkan masyarakat dalam budidaya ikan patin adalah Suhaimi. Pemilik usaha Graha Pratama Fish Kampung Patin sudah merintis usaha tahun 2002. Mulai dari penyediaan bibit, ikan segar, hingga olahan patin.
Pada tahun 1998, Suhaimi yang merupakan pegawai Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau bertugas ke Desa Koto Masjid pada tahun. Sebagai penyuluh perikanan Suhaimi diminta untuk mengangkat potensi lokal yang sesuai dengan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki desa. Karena pada waktu itu masyarakat hanya bergantung pada komoditi karet. Sementara harga karet masih tak menentu, sehingga berdampak pada penghasilan masyarakat.
Mulailah budidaya ikan patin dari beberapa kolam yang menjadi bibit untuk masa depan desa. Kolam tersebut kemudian bertambah jadi puluhan, hingga akhirnya ratusan kolam tumbuh di pekarangan rumah warga.
Pilihan itu ternyata mengubah segalanya. Kampung Patin menjelma sebagai sentra perikanan yang mampu menghasilkan panen ikan patin 15 ton per hari, dengan perputaran uang mencapai Rp190 juta per hari.
“Alhamdulillah ternyata kami tidak salah memilih. Dengan teknologi dan pembinaan yang tepat komoditas ikan patin memberikan dampak yang luar biasa bagi kemajuan desa," kata Suhaimi, Rabu (12/11/2025).
Pihaknya memerlukan setidaknya 3,5 juta benih per bulan. Untungnya itu sudah disokong oleh 80 pembudidaya benih dari Kabupaten Kampar. Kampung Patin juga memiliki 32 hingga 38 parik pakan ikan yang memproduksi 35 hingga 40 ton bahan pakan.
Graha Pratama Fish Kampung Patin kini bukan saja bergerak di pembenihan dan pakan, namun juga pembesaran ikan patin, pengolahan pakan, dan usaha pengolahan pasca panen. Hasil olahan ikan patin yaitu, ikan asap atau dikenal dengan salai patin, nugget, kerupuk, bakso, siomay, empek-empek, kerupuk kulit, dan abon. Dari hasil olahan ikan patin itu juga memberikan nilai tambah. Untuk fillet atau daging ikan patin tanpa tulang dijual Rp50 ribu per Kg, sedangkan kerupuk kulit dan nugget bisa terjual 40 ribu per Kg.
“Jadi di sini semua bagian ikan patin bisa diolah. Harganya juga lumayan tinggi. Tidak ada yang terbuang, istilahnya zero waste,” ujar alumni Fakultas Perikanan, Universitas Riau (Unri) itu.
Untuk penjualan sendiri selain dari pengunjung yang datang, juga dilakukan dengan memanfaatkan platform digital seperti media sosial hingga market place. Bukan itu saja untuk jual beli di desa ini juga sudah menggunakan pembayaran non-tunai seperti QRIS.
Suhaimi menyebut potensi budidaya ikan patin masih terbuka lebar. Bukan hanya di Kampar, tetapi untuk wilayah Riau secara umum. Bahkan Suhaimi melihat ada potensi ekspor terutama ke mancanegara.
Sebagai local hero, Suhaimi menerima Piala Adibakti Mina Bahari adalah penghargaan yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia pada tahun 2015. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas prestasi Graha Pratama Fish sebagai Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) yang berprestasi.

(Suhaimi, pemilik usaha Graha Pratama Fish Kampung Patin menunjukkan berbagai produk olahan dari patin seperti kerupuk kulit dan abon/foto-riki)
Pangan Biru di Bumi Lancang Kuning
Potensi budidaya ikan tawar untuk wilayah Riau masih tinggi. Itu dibuktikan Kabupaten Kampar berhasil menjadi sentra produksi ikan patin untuk provinsi yang dijuluki Bumi Lancang Kuning.
Kini swasembada pangan tidak lagi identik dengan beras, melainkan ikan air tawar bisa menjadi simbol baru kemandirian, sesuai visi dan misi KKP.
Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Riau (BPS) produksi Ikan Patin Kampar tahun 2022 yakni 22.441 ton, kemudian angka ini meningkat pada 2023 sebanyak 23.758 ton dengan nilai produksi perikanan budidaya komoditas patin Rp 356.375.295.000. Kampar menjadi penyumbang produksi ikan patin terbesar yang ada di Riau. dengan jumlah 31.598.700 Kg dengan nilai produksi Rp 515.373.472.000.
Sementara itu Ketua Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Riau Wijatmoko Rah Trisno mengatakan potensi produk ikan patin sangat berpotensi untuk ekspansi ke pasar ekspor. Wijatmoko melihat demand pasar yang sangat tinggi.
"Kita berharap dalam produk ikan patin sesuai dengan standarisasi produk dan pengemasan yang sesuai dengan pasar ekspor. Misalnya salai patin hendaknya bisa kita produksi sesuai dengan standarisasi yang ada, yang di mulai dari pengasapannya aman, kemasannya aman, sampai ke pemasarannya. Dan tak kalah penting harus bisa tahan lama," harapnya.
"Apindo Riau komitmen untuk membangun industri UMKM Indonesia yang naik kelas menjadi pelaku bisnis eksportir," pungkasnya. Untuk itu pihaknya siap bersinergi baik pemerintah daerah untuk mendorong para UMKM bisa naik kelas.
Komitmen Ekonomi Biru untuk Indonesia Emas 2045
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono secara aktif mendorong hilirisasi di sektor perikanan air tawar, termasuk di tingkat desa. Inisiatif ini bagian dari program ekonomi biru yang lebih luas. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk perikanan, menguatkan ekonomi masyarakat pedesaan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
KKP turut memberikan bantuan Kampung Perikanan Budidaya (KPB) Patin di Desa Koto Masjid, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. KPB Patin Kampar dinilai berhasil menjadi kampung pencontohan untuk budidaya terintegrasi hulu – hilir dan merupakan salah satu komitmen KKP dalam memperkuat sektor perikanan dan kelautan berbasis Ekonomi Biru di Provinsi Riau untuk mendukung terlaksananya visi Indonesia Emas 2045.
KKP memberikan dukungan bantuan sebesar Rp 5 milyar, berupa 5 unit Mesin Pembuat Pakan Ikan, 1 unit kendaraan roda tiga, 1 paket Bioflok, 1 paket rehabilitasi UPR, 3 paket peralatan pengolahan ikan serta benih patin pustina.
Bantuan itu diserahkan langsung Kepala Melalui Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), Ishartini, saat pedampingan kunjungan kerja Komisi IV DPR RI pada pertengahan Juni 2025.
Bukan cuma itu, Ishartini menambahkan bahwa dalam rangka menjamin penerapan standar budidaya berkelanjutan dan berdaya saing, maka Unit Pembenihan dan Unit Budidaya perlu memiliki sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Dan ia menghimbau untuk konsisten melaksanakan CPIB dan CBIB secara kontinyu.
Fungsi ini merupakan langkah dan komitmen KKP untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan meningkatkan gizi masyarakat yang sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah.
Kampung Patin membuktikan lewat produksi yang konsisten, teknologi budidaya yang modern, dan ragam produk yang inovatif, bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat dan menjadi ikon kebanggaan daerah.
Keberhasilan Kampung Patin sebagai sentra budidaya ikan air tawar terpadu dapat menjadi model replikasi bagi daerah lain di Indonesia. Dukungan pemerintah yang berkelanjutan dan semangat inovasi masyarakat bisa mendorong perkembangan industri ikan patin Kampar menuju Indonesia Emas 2045.