JAKARTA - PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menegaskan komitmennya untuk terus mengikuti perkembangan peta jalan global industri telekomunikasi. Standarisasi teknologi jaringan generasi keenam atau 6G di tingkat internasional diperkirakan baru akan terbentuk pada periode 2029–2030, sejalan dengan proses yang berlangsung di International Telecommunication Union (ITU) melalui program IMT-2030 serta pengembangan standar di 3GPP Release 20.
VP Technology Strategy and Consumer Product Development Telkomsel, Ronald Limoa, menyampaikan bahwa pada tahap saat ini perusahaan masih memprioritaskan penguatan dan optimalisasi jaringan 4G dan 5G. Langkah tersebut dilakukan agar manfaat konektivitas berkualitas dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Indonesia.
Meski demikian, Telkomsel tetap menyiapkan strategi jangka panjang menuju era Beyond 5G hingga 6G dengan membangun berbagai fondasi teknologi yang relevan dengan evolusi jaringan generasi berikutnya.
“Pengembangan ini terutama melalui teknologi 5G Advanced atau 5.5G yang secara global diposisikan sebagai jembatan menuju 6G,” ujar Ronald, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan sejumlah teknologi utama yang tengah dipersiapkan. Salah satunya adalah Massive Multiple Input Multiple Output (Massive MIMO), yaitu teknologi antena pintar yang memungkinkan satu Base Transceiver Station (BTS) melayani lebih banyak pengguna secara bersamaan dengan koneksi yang lebih stabil.
Dengan teknologi tersebut, masyarakat tetap dapat menikmati akses internet yang lancar meskipun berada di kawasan padat, seperti pusat kota maupun lokasi acara besar.
Selain itu, Telkomsel juga mengembangkan network slicing, yakni kemampuan membagi jaringan menjadi beberapa jalur virtual sesuai kebutuhan layanan. Teknologi ini memungkinkan layanan penting seperti sektor kesehatan, industri, hingga keselamatan publik berjalan lebih andal tanpa terganggu lalu lintas jaringan umum.
Penguatan jaringan juga dilakukan melalui AI-driven network, yakni pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memantau serta mengoptimalkan kinerja jaringan secara otomatis. Teknologi ini membantu jaringan pulih lebih cepat saat terjadi gangguan sekaligus meningkatkan efisiensi energi.
Di sisi lain, Telkomsel mengembangkan cloud-native core dan otomatisasi jaringan, yaitu arsitektur berbasis cloud yang lebih fleksibel sehingga layanan digital dapat dikembangkan dan ditingkatkan dengan lebih cepat sesuai kebutuhan pelanggan.
Perusahaan juga mengembangkan solusi private 5G dan edge computing untuk mendukung kebutuhan sektor industri dan bisnis yang memerlukan konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah. Teknologi tersebut membuka peluang bagi berbagai aplikasi, mulai dari otomatisasi pabrik, layanan kesehatan real-time, hingga sistem logistik yang lebih presisi.
Tidak hanya itu, Telkomsel juga menyiapkan teknologi non-terrestrial network, yaitu sistem jaringan yang memanfaatkan satelit maupun platform udara untuk memperluas jangkauan konektivitas hingga wilayah terpencil.
Ronald menilai berbagai fondasi teknologi tersebut sejalan dengan arah pengembangan global menuju jaringan 6G, yang diperkirakan akan mengedepankan konsep AI-native networks, latensi ultra rendah, serta integrasi komputasi dengan jaringan.
Melalui pendekatan tersebut, Telkomsel diharapkan dapat berada pada posisi siap ketika teknologi dan ekosistem 6G telah matang secara global.