JAKARTA - Di tengah masifnya deforestasi global dan tekanan perubahan iklim, temuan ilmiah terbaru justru menunjukkan harapan besar datang dari alam itu sendiri.
Studi mutakhir yang dipublikasikan dalam jurnal Nature mengungkap, ratusan juta hektare hutan tropis yang telah rusak sebenarnya memiliki kemampuan pulih secara alami, tanpa harus melalui program penanaman ulang yang mahal.
Penelitian berbasis citra satelit ini menemukan sekitar 530 juta hektare lahan bekas hutan tropis di dunia berpotensi mengalami regenerasi alami, selama wilayah tersebut dibiarkan dan mendapat perlindungan yang memadai.
Jika potensi ini dimanfaatkan, hutan-hutan muda tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 23,4 gigaton karbon dalam 30 tahun, angka signifikan dalam upaya menekan laju pemanasan global.
Tak hanya berdampak pada iklim, regenerasi alami juga membawa manfaat ekologis berlapis, mulai dari pemulihan keanekaragaman hayati, peningkatan kualitas air, hingga stabilisasi iklim mikro di wilayah sekitar hutan.
Para peneliti menegaskan bahwa regenerasi alami jauh lebih efisien dibandingkan metode reboisasi konvensional.
Biaya pemulihan hutan secara alami diperkirakan hanya sekitar USD 5 per acre, sementara penanaman pohon aktif bisa menelan biaya hingga USD 10.000 per acre.
“Penanaman pohon di lanskap terdegradasi membutuhkan biaya sangat besar. Dengan memanfaatkan regenerasi alami, negara-negara dapat mencapai target restorasi hutan secara jauh lebih efektif dari sisi biaya,” ujar Brooke Williams, peneliti dari Queensland University of Technology dan Institute for Capacity Exchange in Environmental Decisions, Kamis (25/12/2025).
Selain lebih murah, hutan yang tumbuh secara alami dinilai lebih beragam secara hayati dan lebih stabil dalam jangka panjang dibanding hutan hasil penanaman monokultur.
Studi ini mengidentifikasi lima negara dengan potensi regenerasi alami terbesar di dunia, yakni Brasil, Indonesia, China, Meksiko, dan Kolombia.
Faktor penentunya meliputi tingginya kandungan karbon organik tanah serta kedekatan lahan rusak dengan hutan primer yang masih utuh.
Data satelit periode 2000–2015 menunjukkan pemulihan hutan paling optimal terjadi dalam radius 300 meter dari kawasan hutan yang masih ada, karena proses penyebaran benih berlangsung secara alami.
Untuk memetakan potensi ini, para peneliti memanfaatkan citra satelit resolusi tinggi dan kecerdasan buatan, yang mampu membedakan hutan hasil regenerasi alami dari hutan tanaman.
Hasilnya adalah peta digital detail dengan resolusi hingga 30 meter, yang dapat menjadi rujukan strategis bagi pemerintah dan pembuat kebijakan.
Peta regenerasi ini dinilai sangat strategis untuk mendukung kebijakan restorasi berbasis bukti, sekaligus mengaitkannya dengan skema ekonomi hijau dan kredit karbon.
Namun, tantangan masih besar. Hutan muda hasil regenerasi alami rentan hilang akibat alih fungsi lahan, kebakaran, atau ekspansi pertanian.
“Tanpa perlindungan jangka panjang, janji regenerasi alami bisa menghilang secepat kemunculannya,” kata Matthew Fagan, ahli sistem lingkungan dari University of Maryland.
Ia menekankan pentingnya tata kelola lokal yang kuat, insentif finansial bagi masyarakat sekitar hutan, serta reformasi kebijakan agar skema karbon global juga mengakui nilai hutan yang tumbuh secara alami.
Jika hanya sebagian dari potensi regenerasi ini dapat diwujudkan, dunia berpeluang mengurangi hampir 27 persen emisi karbon global dari lahan terdegradasi.
Dampaknya tidak hanya menyentuh isu iklim, tetapi juga ketahanan air, stabilitas tanah, dan pemulihan habitat satwa liar.