MAKASSAR – Temuan roti berjamur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang viral di media sosial menuai perhatian pelaku usaha roti. Salah satu kritik datang dari Baiq Marina Dian Pratiwi, yang menilai persoalan tersebut berkaitan dengan kualitas produksi dan daya tahan produk.
Melalui unggahan di media sosial pada Jumat (27/2/2026), Baiq menyampaikan dugaan bahwa roti yang ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi kemungkinan telah diproduksi lebih dari tiga hari. Ia menyebut pendapat tersebut didasarkan pada pengalaman profesionalnya di bidang produksi roti.
Menurut Baiq, produsen seharusnya mempertimbangkan kapasitas produksi dan menjaga standar kualitas, terutama untuk program yang menyasar anak-anak. Ia mengaku kerap menolak pesanan dalam jumlah besar demi menjaga kesegaran produk, terlebih karena roti yang diproduksi di tokonya tidak menggunakan bahan pengawet.
Ia menegaskan bahwa roti yang telah melewati masa konsumsi layak seharusnya tidak didistribusikan kepada masyarakat. Baiq juga mengimbau pemasok untuk tidak memaksakan produksi massal jika tidak mampu menjamin kualitas dalam waktu singkat.
Pandangan tersebut mendapat tanggapan dari pelaku usaha lain yang turut menyoroti pentingnya proses produksi yang tepat. Salah satu warganet yang mengaku sebagai pengusaha roti menyampaikan bahwa ketahanan roti dipengaruhi komposisi bahan dan teknik produksi, mulai dari fermentasi hingga proses pemanggangan.
Selain menyoroti kualitas pangan, perdebatan di kalangan pelaku usaha juga mengangkat pentingnya pengawasan distribusi makanan dalam program publik. Standar keamanan pangan dinilai harus menjadi prioritas utama agar tujuan pemenuhan gizi masyarakat dapat tercapai secara optimal.