SUMBAR - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bergerak cepat merespons kemunculan sinkhole di area persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar).
Kajian awal dilakukan untuk memastikan penyebab amblasnya tanah sekaligus memetakan potensi risiko lanjutan bagi masyarakat.
Tim kajian dipimpin Kepala Tim Mitigasi Gerakan Tanah Badan Geologi, Taufik Wira Buana yang turun ke lokasi atas permintaan resmi pemerintah daerah.
Pemeriksaan lapangan dilakukan dengan pendekatan rapid assessment guna memperoleh gambaran awal kondisi geologi setempat.
“Kami datang memenuhi permintaan pemerintah setempat untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi dengan fenomena sinkhole ini,” ujarnya.
Menurut Taufik, pengambilan data difokuskan pada kondisi tanah, air, serta faktor geologi yang berpotensi memicu runtuhan.
Meski bersifat awal, kajian ini penting untuk menepis spekulasi dan memberikan dasar ilmiah bagi langkah penanganan.
“Hasil pengambilan data ini akan kami bawa ke Bandung untuk dianalisis secara cepat. Kajian ini belum menyeluruh, namun bertujuan untuk menjawab fenomena yang terjadi,” jelasnya.
Sinkhole Bertipe Cover-Collapse
Berdasarkan pemeriksaan lapangan selama Rabu hingga Kamis (8–9 Januari 2026), Badan Geologi mengidentifikasi sinkhole tersebut sebagai tipe cover-collapse, yakni runtuhan tiba-tiba pada lapisan tanah penutup yang berada di atas rongga batuan gamping.
Rongga bawah tanah itu terbentuk akibat proses pelarutan batugamping oleh air hujan dan air tanah yang bersifat asam.
Ketika rongga melewati ambang kestabilan, bagian atapnya runtuh sehingga tanah di atasnya amblas secara vertikal.
Keberadaan genangan air di dasar sinkhole menguatkan indikasi adanya hubungan langsung dengan sistem aliran air bawah tanah.
Sementara itu, lapisan tanah penyusun di lokasi berupa lanau pasiran dan pasir lanauan berwarna kuning kecokelatan dengan tingkat plastisitas tinggi.
Di bawahnya, diperkirakan terdapat batugamping Formasi Kuantan yang telah mengalami proses karstifikasi intensif.
DPRD Dorong Kajian Jadi Acuan Kebijakan
Respons cepat Badan Geologi mendapat apresiasi dari DPRD Limapuluh Kota. Anggota DPRD, M Fajar Rillah Vesky menilai kajian teknis sangat penting untuk menenangkan masyarakat dan menjadi pijakan kebijakan pemerintah daerah.
“Dengan kajian teknis dari Badan Geologi, diharapkan dapat menjawab spekulasi liar dan mengurangi kecemasan masyarakat. Hasil kajian ini nantinya menjadi acuan pemerintah daerah dalam langkah antisipatif,” kata Fajar.
Rekomendasi Awal: Zonasi hingga Pemetaan Bawah Tanah
Sebagai langkah awal mitigasi, tim Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting. Salah satunya, sinkhole tidak disarankan ditimbun secara langsung tanpa rekayasa teknis khusus karena berpotensi memperbesar risiko runtuhan lanjutan.
Selain itu, pemerintah daerah diminta segera menyusun zonasi wilayah rawan sinkhole sebagai dasar penataan ruang dan pengendalian pemanfaatan lahan.
Badan Geologi juga merekomendasikan kajian lanjutan berupa pemetaan geologi teknik, hidrogeologi, serta pendugaan geofisika seperti georadar, geolistrik, atau metode seismik untuk mendeteksi keberadaan rongga bawah tanah secara lebih detail.
Kajian lanjutan tersebut akan dirangkum dalam laporan resmi Badan Geologi setelah seluruh data teknis selesai dianalisis secara komprehensif.