SUMBAR - Fenomena alam berupa sinkhole atau lubang tanah ambles yang muncul di area persawahan warga Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, berubah menjadi daya tarik wisata spontan.
Lubang besar yang kini dipenuhi air jernih itu setiap hari didatangi ratusan pengunjung dari berbagai daerah, meski masih dalam proses kajian geologi.
Sinkhole tersebut berada di Jorong Tapi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Lubang raksasa ini pertama kali muncul secara tiba-tiba pada Minggu (4/1/2026) pagi.
Hingga Jumat (9/1/2026), arus kunjungan terus meningkat, terutama pada sore hari.
“Pengunjung datang silih berganti. Ada yang dari Pariaman, bahkan dari Dumai, Riau, sengaja datang hanya untuk melihat langsung fenomena ini,” ujar Wali Jorong Tapi, Salmi.
Air Sinkhole Jernih, Warga Manfaatkan untuk Kebutuhan Sehari-hari
Salmi menjelaskan, pada awal kemunculannya, air di dalam sinkhole tampak keruh. Namun seiring waktu, air tersebut berubah menjadi jernih dan sejuk.
Kondisi itu mendorong sebagian warga dan pengunjung untuk mengambil air, terutama karena daerah sekitar sebelumnya mengalami keterbatasan sumber air bersih.
“Airnya bening dan dingin. Warga mengambil untuk dimasak, karena memang sebelumnya kesulitan air,” jelas Salmi.
Untuk menghindari risiko pengunjung terperosok ke lubang, warga setempat memasang pipa sederhana sebagai jalur pengambilan air.
Dari hasil pemeriksaan awal Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumatera Barat, air sinkhole tersebut memiliki tingkat keasaman (pH) 5,4.
“Air itu bisa dikonsumsi, tapi harus dimasak. Bukan air keramat seperti yang ramai ditafsirkan di media sosial,” tegasnya.
Ia juga memastikan, air tersebut tidak diperjualbelikan. Kotak sumbangan yang tersedia di lokasi bersifat sukarela dan ditujukan untuk membantu pemilik sawah yang terdampak, karena lahannya tidak bisa digarap akibat lubang maupun aktivitas pengunjung.
Badan Geologi Turun Tangan, Kedalaman Sinkhole Capai 6,5 Meter
Untuk memastikan keamanan dan memahami penyebab fenomena tersebut, Badan Geologi Kementerian ESDM menurunkan tim ahli ke lokasi sejak Jumat (9/1/2026). Proses kajian dijadwalkan berlangsung hingga Minggu (11/1/2026).
“Hasil pengukuran awal menunjukkan kedalaman lubang bervariasi, ada yang 5 meter hingga 6,5 meter, dengan diameter lebih dari 10 meter,” ungkap Salmi.
Secara terpisah, Fungsional Penyelidik Bumi Dinas ESDM Sumbar, Dian Hardiansyah, mengatakan kajian menyeluruh masih berlangsung, termasuk analisis kualitas air dan struktur tanah.
“pH airnya 5,4. Secara normal, air minum berada di kisaran pH 6 sampai 7. Artinya, air ini agak asam, tapi masih aman dikonsumsi dengan catatan harus dimasak,” jelas Dian, yang juga menjabat Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar.
Fenomena Karst dan Sungai Bawah Tanah
Dian meluruskan persepsi publik terkait warna air sinkhole yang terlihat kehijauan. Menurutnya, warna tersebut dipengaruhi oleh pencahayaan, bukan karena kandungan tertentu.
“Awalnya memang coklat, lalu menjadi jernih. Sekarang tampak hijau karena faktor cahaya,” katanya.
Ia menambahkan, fenomena sinkhole ini sangat erat kaitannya dengan kondisi geologi karst di wilayah tersebut.
Di bawah persawahan diduga terdapat sistem sungai bawah tanah yang terbentuk akibat pelarutan batuan kapur.
“Lahan persawahan itu pada dasarnya adalah atap sungai bawah tanah. Ketika struktur batuannya melemah dan ambruk, terbentuklah sinkhole,” jelas Dian.
Saat ini, tim Badan Geologi tengah melakukan pemetaan kerentanan untuk mengantisipasi potensi kejadian serupa di lokasi lain.
“Kami berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar informasi bagi masyarakat, mana wilayah yang rentan dan mana yang aman untuk aktivitas,” pungkasnya.(*)