SUMBAR - Fenomena alam berupa sinkhole yang muncul di area persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) kini tak lagi ramai dikunjungi warga.
Jika pada awal kemunculannya lubang alami tersebut menjadi magnet masyarakat untuk mengambil air, dalam dua pekan terakhir aktivitas itu dilaporkan menurun drastis.
Penurunan minat warga ini terjadi seiring dengan imbauan resmi dari instansi kesehatan yang meminta masyarakat tidak mengonsumsi air sinkhole secara langsung karena berpotensi mengandung bakteri berbahaya.
Kepala Jorong Tepi, Salmi mengungkapkan, situasi di lapangan sangat berbeda dibandingkan beberapa hari setelah sinkhole pertama kali muncul.
“Sekarang yang mengambil air sudah sangat berkurang, jauh sekali dibandingkan sebelumnya,” kata Salmi.
Menurutnya, pada fase awal kemunculan sinkhole, hampir setiap hari lokasi tersebut dipadati warga, baik dari lingkungan sekitar maupun pengunjung dari luar nagari.
Mereka datang dengan jeriken dan botol untuk membawa pulang air yang dipercaya memiliki kualitas khusus.
“Dulu hampir setiap hari ramai. Siapa pun yang datang biasanya membawa pulang air sinkhole,” ujarnya.
Salmi menjelaskan, imbauan dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, hingga Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) menjadi faktor utama yang membuat warga mulai membatasi aktivitas pengambilan air.
“Ada imbauan dari berbagai lembaga yang menyatakan air sinkhole mengandung bakteri dan tidak layak dikonsumsi langsung,” jelasnya.
Sebelum adanya imbauan tersebut, air dari sinkhole digunakan warga untuk beragam keperluan, mulai dari air minum, memasak, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Namun setelah hasil kajian dan peringatan disampaikan, kesadaran masyarakat perlahan meningkat.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan gangguan kesehatan yang secara langsung dikaitkan dengan konsumsi air sinkhole tersebut.
“Sampai sekarang belum ada yang mengeluhkan sakit perut atau penyakit lainnya,” pungkasnya.