JAKARTA - Kisah Labid bin Al-Asham yang menyihir Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pelajaran penting tentang realitas sihir, batas pengaruhnya, serta kekuatan perlindungan ilahi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa gangguan sihir memang nyata, namun tidak pernah melampaui kehendak Allah SWT dan tidak mampu merusak keimanan Nabi Muhammad.
Sihir dalam Perspektif Al-Qur’an
Fenomena sihir telah dikenal sejak masa lampau dan kerap disalahgunakan untuk mencelakai sesama.
Al-Qur’an secara tegas menyinggung praktik tersebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 102:
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Ayat ini menegaskan bahwa sihir berasal dari ajaran setan, bersifat merusak, dan tidak akan memberi manfaat apa pun bagi pelakunya di akhirat.
Kronologi Nabi Muhammad Disihir
Dalam Tafsir al-Azhar Jilid 9, Buya Hamka menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengalami gangguan akibat sihir yang dilakukan Labid bin Al-Asham, seorang Yahudi dari Bani Zuraiq.
Riwayat sahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA menyebutkan, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam merasakan kondisi seolah melakukan sesuatu, padahal kenyataannya tidak.
Aisyah RA meriwayatkan pengakuan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
“Hai Aisyah! Aku diberi perasaan bahwa Allah memberi fatwa kepadaku pada perkara yang aku minta fatwa pada-Nya… Orang ini disihir orang!”
Ketika ditanya siapa pelakunya, malaikat itu menjawab, “Labid bin Al-A’sham.”
Disebutkan pula bahwa media sihir berupa rambut Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, patahan sisir, dan benang yang diikat dengan sebelas buhul, disembunyikan di sumur Dzi Auran.
Atas perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Ammar bin Yasir memeriksa lokasi tersebut.
Penyembuhan dan Sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam
Allah kemudian menurunkan Surah Al-Falaq dan An-Nas.
Setiap ayat dibaca sambil membuka buhul sihir hingga Rasulullah SAW merasakan kesembuhan total.
Ketika ditanya mengapa tidak menghukum pelaku sihir, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan sikapnya:
“Allah telah menyembuhkan aku, dan aku tidak suka berbuat jahat kepada orang.”
Sikap ini mencerminkan akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengedepankan kasih sayang dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Pandangan Ulama: Batas Pengaruh Sihir
Ulama besar Said Ramadhan Al-Buthy dalam The Great Episodes of Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi SAW hanya berdampak pada aspek fisik, bukan pada akal, wahyu, atau keimanan beliau.
Kemaksuman Nabi tidak berarti kebal dari kondisi manusiawi seperti sakit atau lelah, namun tetap terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan risalah.
Ayat Kursi sebagai Benteng Perlindungan
Selain Surah Al-Falaq dan An-Nas, umat Islam dianjurkan membaca Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255) sebagai perlindungan dari gangguan sihir:
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وِسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Dalam Bimbingan Ibadah dan Shalat Sunah, Shoufry Byland menjelaskan bahwa Ayat Kursi dianjurkan dibaca pagi, petang, dan sebelum tidur sebagai penjaga batin dari sihir, santet, dan gangguan jin.
Hikmah bagi Umat Islam
Kisah ini menegaskan bahwa sihir memang ada, tetapi tidak pernah berdiri di atas kehendak Allah.
Perlindungan sejati hanya datang dari keimanan, doa, dan konsistensi membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Rasulullah memberi teladan bahwa kekuatan spiritual dan akhlak mulia adalah benteng terbaik menghadapi kejahatan apa pun.
Wallahu A'lam