JAKARTA - Az-Zubair bin Al-Awwam tercatat sebagai salah satu figur sentral dalam sejarah awal Islam, yang bukan hanya bagian dari as-Sabiqun al-Awwalun, tetapi juga sosok yang menempa keteguhan iman melalui siksaan, hijrah, dan peperangan di garis terdepan.
Az-Zubair memiliki hubungan darah yang sangat dekat dengan Rasulullah. Ibunya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, adalah bibi Nabi.
Kedekatan nasab ini tidak membuatnya mendapat perlakuan istimewa, justru menjadi ujian berat ketika ia memilih Islam di usia muda.
Rasulullah bahkan memasukkan Az-Zubair dalam kelompok al-‘Asyrah al-Mubasysyirah, sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Sebuah kedudukan istimewa yang mencerminkan integritas iman dan pengorbanannya di jalan Allah.
Disiksa Karena Tauhid
Sumber sejarah mencatat, pamannya sendiri, Naufal bin Khuwailid, berubah menjadi penyiksa paling kejam setelah Az-Zubair memeluk Islam.
Ia dimasukkan ke dalam kurungan sempit yang dipenuhi asap api, dengan tujuan memaksanya kembali menyembah berhala. Namun ancaman itu gagal. Az-Zubair menolak tunduk.
Dalam riwayat yang banyak dikutip, ia tetap bersikeras mempertahankan Islam meski tubuhnya tersiksa. Keteguhan ini membuatnya dikenal sebagai pemuda yang 'iman lebih kuat dari rasa sakit.'
Pejuang di Barisan Terdepan
Secara fisik, Az-Zubair dikenal bertubuh tinggi dan tegap. Ia sebaya dengan Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Saad bin Abi Waqqash. Hampir seluruh hidup dewasanya dihabiskan di medan jihad.
Ia ikut berhijrah ke Habasyah, lalu ke Madinah bersama istrinya, Asma binti Abu Bakar, yang saat itu tengah mengandung. Di Madinah, Az-Zubair berdagang sambil berdakwah, hingga turun perintah jihad.
Namanya tercatat sebagai veteran Perang Badar, Uhud, Hunain, hingga Yarmuk. Tubuhnya dipenuhi bekas luka sabetan pedang dan tombak, tanda ia selalu berada di barisan depan.
Pada Perang Uhud, Az-Zubair menjawab tantangan duel Thalhah bin Thalhah Al-Abdari, pembawa panji pasukan musyrikin. Ia berhasil menewaskannya. Melihat itu, Rasulullah berseru:
“Allahu Akbar!”
Seruan tersebut membakar kembali semangat pasukan Muslim yang sempat tertekan.
Dicintai Nabi, Ditakuti Musuh
Usai Perang Uhud, Az-Zubair bersama Abu Bakar RA diperintahkan mengejar pasukan Quraisy yang mundur.
Strategi ini membuat musuh mengira kekuatan kaum Muslimin masih sangat besar, sehingga mereka mengurungkan niat menyerang kembali.
Az-Zubair juga dikenal memiliki kecintaan mendalam terhadap syahid. Ia menamai anak-anaknya dengan nama para sahabat yang telah gugur, sebagai doa dan harapan agar mereka mencintai pengorbanan di jalan Allah.
Ironisnya, impian syahid di medan perang tidak Allah takdirkan baginya. Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair wafat secara tragis. Ia dibunuh dari belakang saat sedang menunaikan salat oleh Amr bin Jurmuz.
Namun sejarah mencatat, kematiannya tidak menghapus jejaknya sebagai ksatria Islam. Az-Zubair bin Al-Awwam tetap dikenang sebagai simbol keberanian, keteguhan iman, dan loyalitas tanpa syarat kepada Rasulullah.