DALAM kalender hijriah, bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keutamaan karena berada di antara bulan Rajab dan Ramadan. Namun, Muhammadiyah menegaskan bahwa tidak terdapat dalil yang shahih dan tegas baik dari Al-Qur’an maupun hadits shahih yang mengkhususkan malam Nisfu Sya’ban dengan keutamaan, ibadah, atau amalan tertentu.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa hadits-hadits yang secara khusus menyebut keutamaan malam Nisfu Sya’ban seperti turunnya ampunan secara massal pada malam tersebut berstatus lemah (dhaif) atau diperselisihkan kualitasnya, dan tidak diriwayatkan dalam Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim.
Karena itu, Muhammadiyah tidak menganjurkan pengkhususan ibadah tertentu pada malam Nisfu Sya’ban, seperti:
penetapan shalat sunnah khusus,
bacaan doa tertentu,
atau ritual yang diyakini memiliki keutamaan khusus pada malam tersebut.
Meski demikian, Muhammadiyah tetap menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah secara umum, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan beristighfar, tanpa mengaitkannya dengan keyakinan adanya keutamaan khusus malam Nisfu Sya’ban.
Hal ini sejalan dengan hadits shahih Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”
(HR. Muslim)
Dengan demikian, dalam pandangan Muhammadiyah, malam Nisfu Sya’ban diperlakukan sebagai malam biasa, namun tetap dapat diisi dengan amal saleh sebagaimana malam-malam lainnya, selama tidak diyakini sebagai ibadah yang memiliki keutamaan khusus atau tuntunan khusus dari Nabi Muhammad SAW.(*)