PEKANBARU - Pola makan yang tinggi proses pengolahan (ultra-processed food) serta kurangnya aktivitas fisik harian kian memperbesar risiko peradangan kronis pada organ reproduksi perempuan.
Ketidakseimbangan antara asupan kalori dan gaya hidup aktif memicu obesitas, yang menjadi salah satu pintu masuk utama timbulnya gangguan kesehatan reproduksi seperti endometriosis.
"Kita ini manusia diciptakan untuk beraktivitas, bukan untuk duduk, tidur-tiduran, menonton TV, sehingga tidak ada kalori yang terbakar di dalam tubuh," kata Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Eka Hospital Pekanbaru, dr Yohanes Iddo Adventa SpOG Subsp FER MH, Kamis (3/9/2026).
"Obesitas itu adalah cikal bakal banyak penyakit, nggak cuma di kandungan, di jantung, di organ interna, sampai dengan kesuburan," sambungnya.
Ancaman endometriosis, kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh di luar lokasi seharusnya, berkaitan erat dengan proses peradangan kronis.
Prevalensi kasus ini secara umum mencapai 10 hingga 15 persen, dan angkanya tergolong tinggi di wilayah Riau.
Trend menarche (haid pertama) pada anak perempuan yang kini terjadi lebih dini dibanding generasi sebelumnya turut meningkatkan urgensi kewaspadaan terhadap penyakit ini.
Kondisi nyeri haid yang tidak biasa menjadi salah satu indikator utama (red flag) yang tidak boleh diabaikan.
Jika kram menstruasi terus berlanjut hingga mengganggu aktivitas harian setelah tahun pertama menstruasi, pemeriksaan medis oleh pakar kesehatan reproduksi perlu segera dilakukan tanpa menunggu timbulnya rasa sakit yang semakin berat.
Langkah pencegahan primer yang disarankan mencakup perbaikan pola hidup secara mendasar:
Konsumsi Real Food:
Mengutamakan makanan alami dengan proses pengolahan minim untuk menekan tingkat peradangan sistemik dalam tubuh.
Aktivitas Fisik Rutin:
Memastikan terjadinya pembakaran kalori harian guna menjaga berat badan ideal dan keseimbangan hormon.
Deteksi Dini:
Memeriksakan siklus haid yang tidak teratur, berdurasi di luar batas normal (4–8 hari), atau disertai nyeri intensif ke dokter spesialis.
Layanan konsultasi kesehatan reproduksi komprehensif, mencakup penanganan masalah hormon dan kesuburan, kini didukung oleh fasilitas medis terpadu di Eka Hospital Pekanbaru.
"Manajemen yakin dan percaya peran krusial media untuk menyampaikan informasi dari kami sebagai penyedia layanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk hormon kesuburan sudah ada semuanya di Eka Hospital," ungkap Kepala Divisi Pelayanan Medis Eka Hospital Pekanbaru, dr Monika N Susanto.
Masyarakat yang membutuhkan layanan konsultasi lanjutan dapat menghubungi tim medis Eka Hospital Pekanbaru melalui narahubung Riri (082142202427) atau Ranny (082164417737).